BERANI BERSAKSI

  •  Sujud Swastoko
  •  

RENUNGAN HARIAN

GKI COYUDAN SOLO

Kamis, 15 Agustus 2024


BERANI BERSAKSI

Kisah Para Rasul 6:8-15


”Namun, tampillah beberapa anggota rumah ibadat Yahudi yang disebut Orang-orang Merdeka (Libertini), yang berasal dari Kirene dan Aleksandria, bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Mereka berdebat dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.” (ay.9-10)


Stefanus adalah seorang Yahudi Helenis, yaitu orang Yahudi yang berbahasa Yunani. Dia dipilih menjadi salah satu dari tujuh diaken karena dia seorang yang penuh iman dan Roh Kudus. Tugas diaken saat itu adalah mengurusi kebutuhan hidup sehari-hari para janda yang berbahasa Yunani. Sebelumnya, pelayanan terhadap para janda miskin tersebut diabaikan oleh orang-orang Ibrani atau orang Yahudi asli, para Rasul merasa bersalah dan memilih diaken yang berbahasa Yunani untuk melayani para janda tersebut.


Meskipun bukan keturunan Ibrani asli, Stefanus memiliki iman yang sangat baik sehingga dia tidak takut untuk bersaksi tentang Yesus Kristus. Dia penuh dengan anugerah dan kuasa dari Allah, mengadakan mukjizat-mukjizat, dan tanda-tanda di antara orang banyak, sehingga semakin banyak orang yang percaya kepada Kristus.


Namun bukan berarti semuanya berjalan lancar-lancar saja. Stefanus harus berhadapan dengan orang-orang yang berasal dari Kirene, Aleksandria, dan juga orang Yahudi yang berasal dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang Yunani memang suka berdebat tentang filsafat atau falsafah kehidupan, dan saat itu mereka berupaya untuk menggoyang iman Stefanus.


Yang terjadi dalam perdebatan tersebut, mereka tidak sanggup melawan hikmat yang dimiliki Stefanus karena Roh Kudus yang mendorongnya untuk terus berbicara. Karena kalah berdebat, maka orang-orang mulai menyerang Stefanus dengan kesaksian dusta bahwa Stefanus pembawa ajaran yang menghujat Musa dan Allah. Kesaksian orang-orang tersebut akhirnya bisa menghasut orang banyak, tua-tua dan ahli Taurat, sehingga Stefanus ditangkap dan diseret ke siding Mahkamah Agama.


Di hadapan siding Mahkamah Agama, nyali Stefanus tidak surut. Dia tetap berani bersaksi tentang Yesus Kristus, bahkan dengan keras mengatakan kepada Mahkamah Agama bahwa Yesus yang mereka bunuh adalah Mesias, Juruselamat yang dinanti-nantikan. Pembelaan iman Stefanus tersebut membuat marah Mahkamah Agama dan membawanya pada kematian dengan cara dirajam batu hingga tewas. Namun, ia mengampuni mereka. Sebelum mati, ia berseru dengan suara nyaring, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!”


Keberanian Stefanus dalam memberitakan Injil Yesus Kristus dan membela imannya di hadapan orang-orang yang menyerangnya hingga mati menunjukkan bahwa ia benar-benar percaya dan menyerahkan diri kepada Tuhan Yesus. Keberanian tersebut bukan saja karena keyakinan imannya, tetapi juga karena dia penuh dengan Roh Kudus yang memberikan kekuatan dan dorongan untuk bersaksi.


Keberanian itulah yang juga dimiliki oleh orang-orang yang percaya kepada Kristus. Sebagai pengikut Kristus, kita juga dimampukan untuk bersaksi tentang Kristus. Kita harus memiliki hubungan yang semakin baik dengan Kristus melalui perenungan firman Tuhan dan doa yang sungguh-sungguh. Dengan demikin kita menjadi kuat dan mampu bersaksi melalui kehidupan sehari-hari, baik dalam pekerjaan, keluarga, relasi dengan orang lain. 


Kiranya Roh Kudus terus menolong dan memampukan kita untuk berani bersaksi tentang Kristus. Amin.


Pokok Doa

1. Kegiatan HUT ke-79 RI berjalan lancar dan aman.

2. Pencalonan dan pemilihan penatua.

3. Yang sedang sakit, disembuhkan dan dipulihkan.


Sujud Swastoko

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.