BELAS KASIHAN ALLAH

  •  Gerald Raynhart Stephen
  •  

Bacaan: Matius 12:1-8

 

Menjaga sebuah tradisi atau aturan-aturan bukanlah suatu hal yang salah. Tetapi jika hal itu membuat kita mencari-cari kesalahan dari orang lain dan membuat kita kehilangan kasih kepada sesama kita, maka itu adalah satu hal yang salah.

Kita melihat bagaimana orang-orang Farisi yang sekalipun membenci Yesus tetapi selalu ada mengikuti Yesus. Mereka mengikuti Yesus bukan karena ingin mendengar dan menaati pengajaran Yesus, melainkan mencari kesalahan Yesus agar Ia dapat ditangkap dan dibinasakan. Jelas sekali bahwa apa yang di permasalahkan oleh orang Farisi adalah hendak menyalahkan Yesus melalui tindakan murid-murid-Nya.

Pada hari itu adalah hari Sabat, dimana semua orang Yahudi tidak diperbolehkan melakukan segala sesuatu. Lalu pada waktu itu murid-murid kedapatan mengambil bulir-bulir gandum di tengah perjalanan mereka. Hal inilah yang kemudian dipermasalahkan oleh orang Farisi. Mereka menganggap bahwa murid-murid Yesus tidak menaati hari Sabat, sehingga mereka bersalah. Tetapi Yesus tidak menolak tuduhan orang Farisi, dan juga tidak menegor murid-murid-Nya. Melainkan Yesus menjawab mereka dengan sebuah kisah yang tentunya mereka pernah dengar yaitu kisah Raja Daud (ay. 3-4). Lebih lagi Yesus mengungkapkan bahwa di dalam tradisi orang Yahudi pun, Imam melakukan kegiatan di hari Sabat (ay. 5). Hal ini seharusnya sudah cukup menjawab bahwa menjaga hari Sabat bukan berarti tidak boleh melakukan segala sesuatu.

Lebih dari itu, Yesus bukan sekadar melanggar hari Sabat dengan sesuka hati. Ada alasan yang jelas mengapa Yesus mengijinkan murid-murid mengambil bulir gandum ketika di tengah perjalanan, yaitu karena murid-murid sedang lapar (ay. 1). Alasan ini jugalah yang membuat Yesus menggunakan contoh kisah Daud bersama pengikutnya yang kelaparan sehingga harus memakan roti persembahan. Yesus tahu mengapa murid-murid melakukan hal itu, sehingga Ia dengan sengaja mengijinkan murid-murid-Nya melakukan hal itu sekalipun di hari Sabat. Kemudian yang menjadi hal penting dalam perikop ini adalah apa yang dikatakan oleh Yesus untuk menjawab tuduhan orang Farisi yaitu, "Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan (ay. 7)."

Tuhan berkuasa atas hari Sabat. Tetapi Tuhan tidak menggunakan kuasa-Nya untuk kemudian melupakan belas kasihan kepada orang-orang yang melakukan kegiatan pada hari Sabat itu. Tuhan lebih mementingkan belas kasihan dan bukan persembahan. Hal ini juga menjelaskan bahwa Tuhan tidak lagi mementingkan persembahan seperti pada jaman perjanjian lama, dimana seorang harus mempersembahkan korban kepada Tuhan untuk pengampunan dosanya. Tuhan tidak menuntut tindakan atau diri kita yang sempurna untuk menaati aturan atau perintah-Nya, tetapi Tuhan penuh dengan belas kasih kepada setiap kita yang bergantung kepada-Nya. Mari kita bersama hidup penuh bergantung kepada Tuhan tanpa berusaha menjadi sempurna, sebab Tuhan menerima dan mengasihi kita bukan karena persembahan dan tindakan-tindakan kita, tetapi karena belas kasihan-Nya yang besar bagi setiap kita.

Pokok Doa:
1. Persiapan Retreat Remaja-Pemuda
2. Pergumulan studi dan pekerjaan Remaja-Pemuda
3. Jemaat yang sakit dan lanjut usia

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.