YESUS SANG HIKMAT SEJATI

  •  Gerald Raynhart Stephen
  •  

1 Korintus 2:1-5

Istilah insecure belakangan cukup sering kita dengarkan. Insecure ini adalah sebuah perasaan dimana seseorang merasa dirinya memiliki kondisi fisik atau keadaan yang tidak dapat diterima dalam sebuah komunitas. Sehingga, biasanya seseorang yang insecure akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengubah diri mereka sehingga mereka dapat masuk dalam sebuah komunitas dan tidak mendapatkan penolakan. Perasaan takut tertolak sepertinya menjadi hal utama yang menyebabkan seseorang bisa merasa insecure. Bukankah perasaan takut ditolak adalah perasaan yang juga dimiliki oleh semua manusia? Lalu apakah karena perasaan itu kita perlu mengikuti sebuah standar yang ditentukan oleh dunia agar kita dapat hidup di dunia? Apakah respon yang paling tepat bagi orang percaya?

Rasul Paulus mengawali suratnya kepada jemaat di Korintus dengan menjelaskan tentang penolakan yang terjadi kepada orang-orang percaya. Rasul Paulus juga menjelaskan bahwa bagi orang Yahudi pemberitaan tentang Kristus yang disalibkan adalah sebuah batu sandungan, sedangkan bagi orang bukan Yahudi itu adalah kebodohan (1Kor 1:23). Dapat kita katakan bahwa mengikut Kristus adalah sebuah kebodohan bagi dunia. Maka dari itu jelas bahwa dunia menolak Kristus dan para pengikut-Nya.

Dalam perikop yang kita baca, Paulus sedang berkata bahwa Ia datang hanya untuk memberitakan tentang Kristus. Paulus tidak fokus kepada dirinya, melainkan kepada pemberitaan Injilnya. Paulus juga menggunakan kata "hikmat" untuk menyinggung orang-orang Korintus yang pada waktu itu sangat mencari-cari hikmat dari manusia. Paulus tidak ingin menonjolkan hikmat yang dimilikinya, agar pemberitaan tentang Kristus itu yang menjadi utama. Lebih lagi, Paulus juga menyatakan bahwa pemberitaan Injil yang ia lakukan bukan karena hikmat yang ia miliki melainkan sebuah kyakinan dan kekuatan dari Roh Kudus (1Kor 2:4). Hal ini tentu meruntuhkan pemahaman dan keinginan orang-orang Korintus yang pada waktu itu berlomba-lomba untuk mencari hikmat dari manusia. Maka dari itu Paulus menyampaikan juga agar jemaat tidak bergantung pada hikmat manusia melainkan pada kekuatan Allah (ay. 5).

Sebenarnya jika kita perhatikan hal ini menjadi masalah utama jemaat di Korintus, yaitu perasaan takut ditolak sehingga akhirnya mengikuti apa kata dunia. Jika dunia menolak Kristus dan menganggapnya sebagai kebodohan, maka jemaat Korintus juga perlu melakukan hal yang sama. Tetapi Paulus menegaskan bahwa sekalipun demikian yang dianggap bodoh bagi dunia justru dipakai Tuhan untuk menjadi jalan pembenaran dan pengudusan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya (1Kor 1:27-30). Sehingga sekali lagi bukan fokus terhadap hikmat dunia atau apa yang menjadi standar dunia, melainkan fokus kepada Kristus saja.

Perasaan takut ditolak itu adalah perasaan yang wajar. Tetapi yang tidak wajar adalah ketika kita melupakan identitas kita sebagai orang percaya dan kemudian mengikuti apa kata dunia. Hikmat dunia terkadang memang sangat menarik dan lebih nikmat untuk diikuti, tetapi percayalah bahwa keselamatan kita hanya berasal dari Kristus saja. Sehingga bukan hikmat dunia yang kita cari melainkan kekuatan dari Tuhanlah yang sepatutnya kita cari. Jangan mengandalkan hikmat manusia, dan jangan mengikuti apa kata dunia. Bergantunglah pada kehendak Tuhan, dan bergantunglah pada hikmat dari Tuhan. Sekalipun Kristus adalah kebodohan bagi dunia, kita percaya bahwa "yang bodoh" bagi dunia itu telah dipakai Allah untuk menjadi jalan keselamatan satu-satunya bagi setiap kita.


Pokok Doa:

1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja - pemuda GKI Coyudan

2. Persiapan bulan Musik

3. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia


Gerald Raynhart Stephen

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.