MENELADANI KASIH KRISTUS UNTUK BERSAKSI
Renungan warta 14 Juni 2026
MENELADANI KASIH KRISTUS UNTUK BERSAKSI 1 Yohanes 4:7-21
Ada pepatah yang mengatakan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, yang berarti anak-anak akan mirip dengan orang tuanya, baik wajah, sifat, kebiasaan atau penampilan yang mirip dengan orang tuanya. Tentu saja kondisi ini bukan kebetulan, namun karena anak melihat dan meniru apa yang dilakukan orang tuanya, entah yang baik maupun tidak.
Mengutip bacaan kita hari ini, “Kita mengasihi, karena Allah terlebih dulu mengasihi kita” (1 Yoh 4:19) mengingatkan kita hal yang serupa, bahwa sebagai anak Allah, kita pun semestinya hidup mencerminkan karakter Allah. Jika Allah penuh kasih, apakah hidup kita penuh kasih? Sejauh mana kita mengenal Allah dan mengerti kehendak-Nya, supaya dapat meneladani-Nya?
Kristus adalah wujud dari kasih karunia Allah dalam kehidupan manusia, di mana melalui pengorbanan Kristus di kayu salib, manusia berdosa memperoleh pengampunan dan dibenarkan di hadapan Allah. Inilah bukti kasih sejati Allah yang tak bersyarat. Kita diampuni dan dipulihkan bukan karena kita baik dan sempurna, namun semata hanya karena anugerah-Nya. Kita bersyukur untuk kasih yang Kristus lakukan terlebih dahulu, karena itu apakah kita mau hidup meneladani Kristus hari lepas hari?
Kasih Kristus adalah kasih yang sempurna dan tak bersyarat. Meneladani Kristus berarti kita menggunakan standar Kristus agar hidup kita mencerminkan Kristus bagi dunia. Meneladani Kristus berarti kita memiliki kasih yang melebihi apa yang diajarkan dunia. Melalui pengenalan dan keteladanan Kristus kita belajar mengasihi dengan tulus, seperti Kristus mengasihi kita. Jika kasih dunia mengharapkan timbal balik yang sepadan, apakah kita rela tetap mengasihi mereka yang tak dapat membalasnya? Jika kasih dunia mementingkan diri sendiri, maukah kita mengasihi tanpa pamrih?
Sekalipun kita tidak sempurna, kita terlebih dahulu dikasihi Allah di dalam kesempurnaan-Nya. Marilah kita meneladani Kristus dengan belajar mengasihi seperti Kristus. Biarlah kehidupan kita boleh menjadi kesaksian yang hidup tentang Kristus dan karya keselamatan-Nya bagi dunia.
(Bp. Edhi Setiawan)