YESUS KRISTUS ATAU YESUS BARABAS?

  •  Yoseph Erry Pratomo
  •  

Renungan warta 29 Maret 2026

YESUS KRISTUS ATAU YESUS BARABAS?

Matius 27 : 15 – 26


  Serupa tapi tak sama. Sebuah ungkapan yang menggambarkan dua sosok yang pada waktu itu sama-sama sedang ditahan oleh Romawi. Yang seorang adalah Yesus Barabas, seorang penjahat, pemberontak, dan pembunuh. Sosok yang sudah sangat terlihat kesalahannya di hadapan hukum, walaupun ada juga sebagian orang yang menganggapnya sebagai pahlawan yang berani melawan Romawi.  Yang seorang lagi adalah Yesus yang disebut Kristus, yang ditahan atas tuduhan yang diajukan oleh orang-orang Yahudi.

Sebelumnya Yesus sudah dihadapkan kepada Mahkamah Agama dengan tuduhan menghujat Allah dan mengaku sebagai Anak Allah. Namun tuduhan ini tidak cukup untuk menjadikan Yesus dihukum mati oleh hukum Romawi. Karena itu, orang Yahudi mengubah tuduhan agama menjadi tuduhan politik, yakni bahwa Yesus mengaku sebagai raja, yang mana secara politik dan hukum menjadi alasan yang kuat bagi Pilatus untuk memberikan hukuman mati.

Menariknya, Pilatus dikatakan tidak mendapati kesalahan pada Yesus. Dia menyadari bahwa tuduhan yang diberikan oleh orang Yahudi kepada Yesus hanyalah bermotif iri hati, tanpa ada tanda-tanda ancaman pemberontakan terhadap Romawi. Namun pada akhirnya, Pilatus tetap menyerah pada tekanan massa. Daripada terjadi kerusuhan politik yang tentu saja akan berpengaruh pada posisi dan kinerjanya sebagai wali negeri di Yudea, akhirnya Pilatus melemparkan keputusan kepada massa dengan pilihan untuk membebaskan Yesus atau di lain pihak membebaskan Barabas sang penjahat.

Orang Yahudi yang telah gelap mata, tidak lagi menimbang dengan jernih, mantap untuk memilih Barabas untuk dibebaskan. Sungguh kontras yang terjadi pada waktu itu. Sebuah pilihan yang sebetulnya sama sekali tidak berimbang. Nama Barabas sendiri berasal dari kata Bar = anak dari, Abba = bapa -> Anak bapa, sebuah ironi yang secara tidak langsung diperhadapkan kepada Yesus Sang Anak Bapa yang sejati.

Memilih kepada Yesus Kristus sang Kebenaran yang sejati sepertinya bukanlah perkara yang sulit bagi kita saat ini, orang Kristen yang sudah mengikut Dia. Namun jika kita membayangkan berada di kerumunan massa pada waktu itu, apakah kita tetap akan memilih Dia Sang Kebenaran? Atau kita lebih memilih untuk ikut arus demi “keamanan” kita sendiri dengan memilih Barabas? Demikian juga hidup kita di dunia saat ini, jika kita diperhadapkan untuk memilih Kristus Sang Kebenaran dengan segala konsekuensinya, yang seringkali bukanlah hal yang nyaman buat kita, atau memilih pilihan arus dunia yang “aman” bagi diri kita, akankah kita tetap setia tetap memilih berjalan bersama Yesus dalam jalan Kebenaran?

(Bp. Yoseph Erry Pratomo)


Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.