WAKTU, CARA, DAN KARYA ALLAH
GALATIA 4: 4-7
Banyak orang berpandangan keliru tentang kehidupan beriman sehingga menjadikan rancangan dan ambisi pribadi sebagai ”kehendak” Tuhan dalam hidupnya. Akibatnya ia menjadi kecewa ketika rancangan-rancangannya tidak berjalan sesuai rencananya; baik dari segi waktu, cara dan karya.
Bukankah itu yang terjadi dengan peristiwa Natal! Sebagian umat Allah (dan justru para pemuka agama Yahudi) tidak lagi peka terhadap kedatangan sang Mesias karena selama ini mereka sudah lama menantikannya. Setiap kali ada berita tentang pemberontakan, mereka mengira Mesias datang (karena pandangan Mesias umat secara politis), tapi pada akhirnya selalu dapat diredam oleh pemerintahan Romawi. Akhirnya, umat Tuhan tidak lagi peka terhadap :
<!-- [if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Waktu dan Cara Tuhan, sehingga berita di istana Herodes tentang kelahiran sang Mesias tidak membuat kaki mereka bergerak untuk mencari dan menemukan bayi Yesus. Dalam pikiran mereka, kedatangan Mesias itu yang penting adalah pada saat Ia datang membebaskan umat dari tangan lawan-lawannya.
Padahal Allah menghadirkan orang-orang pilihan-Nya melalui kelahiran terlebih dahulu; contohnya: kelahiran Musa sebagai penyelamat bangsa Israel yang hidup sebagai budak di tanah Mesir. Hal ini menunjukkan bahwa waktu dan cara Tuhan seringkali berbeda dengan bayangan dan keinginan umat, tetapi waktu dan cara Tuhan adalah yang terbaik dari yang dapat dipikirkan dan di rancangkan manusia.
<!-- [if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Karya Tuhan yang berproses dalam diri orang-orang pilihan-Nya. Karena yang dipikirkan manusia adalah sebuah peristiwa yang terjadi instan, segera dan tiba-tiba terjadinya. Tetapi Allah justru berkarya melalui Roh Kudus dalam sebuah proses pergumulan iman sampai pada titik pengakuan, bahwa Allah adalah Bapa !
Demikian umat semestinya memandang kembali bahwa karya keselamatan sesungguhnya dan semestinya dipandang dalam ”Waktu Tuhan”, ”Cara Tuhan”, dan sebagai ”Karya Tuhan” dalam proses kehidupan manusia. Oleh sebab itu, marilah kita menjalani kehidupan beriman kita dalam sebuah proses pertobatan yang terus menerus; setiap saat dan di manapun kita berada. Tetaplah berpegang pada ”Waktu Tuhan” ketika kita menantikan keselamatan dan pertolongan daripada-Nya, tetaplah peka terhadap ”Cara Tuhan” sekalipun tidak seperti yang kita bayangkan dan inginkan (seperti Maria menerima panggilan untuk menjadi ibu Yesus), dan ijinkan ”Tuhan berkarya” dalam kehidupan kita setiap hari. Amin.
(Pdt. Lucas Adhitya Aryanto Sudarmadi)