TUHAN YANG MEMBENTUK KELUARGA
”Sebab itu, seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia itu dan istrinya, tetapi mereka tidak merasa malu.”
(Kejadian 2:24, 25)
Saya membayangkan bagaimana suasana di taman Eden pada waktu Tuhan menempatkan Adam dan Hawa di sana. Pada waktu itu, seluruh kebutuhan manusia terpenuhi. Mereka tidak kelaparan karena berbagai pohon yang menarik tumbuh di situ dan Tuhan memperbolehkan semua buah dari pohon tersebut untuk dimakan, kecuali buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.
Selain tidak kekurangan makanan, manusia juga memiliki kesibukan yang mengasyikkan karena Tuhan telah menyuruh mereka untuk memelihara dan mengusahakan taman yang indah tersebut, taman yang dikelilingi empat sungai. Binatang-binatang yang dikuasakan kepada manusia tentu juga menjadi teman yang menjadi penghiburan tersendiri.
Kebahagiaan manusia (Adam) menjadi sempurna saat Tuhan memberikan perempuan, yaitu Hawa yang berasal dari tulang rusuknya, untuk menjadi istrinya. Maka Tuhan membentuk keluarga pertama yang harmonis, penuh kasih, tidak ada rasa malu antara satu dengan yang lain. Mereka juga memiliki komunikasi yang terbuka, baik antara Adam dan Hawa, maupun dengan Allah, Sang Pencipta.
Keluarga yang dibentuk Allah di taman Eden benar-benar sebuah keluarga yang yang sungguh amat baik, yang tentunya sesuai dengan harapan dan kehendak Allah. Namun, pada akhirnya dosa membuat manusia meninggalkan Tuhan. Pelanggaran yang dilakukan manusia dengan memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, telah menjadikan mereka tahu yang baik dan yang jahat. Mereka telah menjadi orang yang jahat karena melanggar perintah Tuhan, sehingga mereka hidup dalam ketakutan, berusaha bersembunyi dari Tuhan, memiliki rasa malu, selalu membela diri dan menyalahkan orang lain.
Dosa membuat manusia memiliki kecenderungan untuk terus berbuat jahat hingga saat ini. Keluarga yang semula dibentuk Allah dengan baik, kini mudah retak karena kuasa dosa. Manusia yang awalnya penuh kasih, tulus, bertanggungjawab dengan tugasnya, memuliakan dan mengutamakan Tuhan, telah berubah menjadi manusia dunia yang dikuasai Iblis. Manusia yang mementingkan diri sendiri dan egois.
Maka, satu-satunya jalan agar keluarga yang dibangun menjadi keluarga seperti yang dikehendaki Allah adalah melakukan perdamaian dengan Allah di dalam Yesus Kristus. Mereka harus bertobat dan minta pengampunan dalam nama Tuhan Yesus, sehingga dosanya dihapuskan dan bisa hidup dalam kekudusan. Mereka harus mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.
Setelah diperdamaikan dengan Allah, maka dalam membangun rumah tangga kita juga harus menempatkan Firman Allah sebagai dasar dan pusat kehidupan keluarga. Keluarga harus membuka diri terhadap campur tangan Tuhan melalui pimpinan Roh Kudus. Dengan demikian Tuhan sendirilah yang membentuk keluarga kita. Keluarga yang dibangun berdasarkan firman Tuhan akan menjadi keluarga yang hidup dalam perdamaian dan diberkati oleh Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Amin.
(Pnt. Sujud Swastoko)