PENGHARAPAN : MENGHARAPKAN APA YANG TIDAK TERLIHAT

  •  Lucas Adhitya Aryanto Sudarmadi
  •  

Renungan Harian GKI Coyudan Solo

Senin, 25 Mei 2026


Roma 8:24-25

Pengharapan : Mengharapkan Apa Yang Tidak Terlihat


Pada tanggal 12 April 2009, Doug White, seorang pria yang hanya memiliki pengalaman sangat minim menerbangkan pesawat kecil untuk 1 penumpang. Suatu hari pergi dengan menyewa sebuah pesawat besar untuk membawa istri dan kedua putrinya pulang.


Tidak lama setelah lepas landas pada ketinggian tertentu, pilot pesawat tersebut mendadak terkena serangan jantung dan meninggal di kursi kemudi. Dengan terpaksa Doug harus memegang kendali pesawat besar tersebut tanpa pengetahuan yang cukup. Situasi diperparah oleh cuaca buruk. Pesawat tersebut masuk ke dalam gumpalan awan badai yang sangat pekat.


Saat Doug melihat ke luar jendela kokpit, yang ada hanyalah warna putih kabut. Dia mengalami apa yang disebut flying blind (terbang buta). Doug tidak bisa melihat daratan, tidak tahu posisi bandara, dan tidak tahu apakah di depannya ada gunung atau badai yang lebih besar. Pengelihatannya sama sekali tidak bisa menolongnya.


Satu-satunya hal yang menyelamatkan Doug dan keluarganya adalah sepasang headphone di telinganya. Melalui alat itu, petugas menara pengawas udara yang berada di darat memandunya. Petugas itu berkata, "Doug, kami melihatmu di layar radar kami. Ikuti suara kami, belok ke kanan, turunkan ketinggian."


Doug tidak bisa melihat bandara, tetapi dia menaruh pengharapan sepenuhnya pada suara petugas radar yang tidak kelihatan itu. Dia menundukkan egonya, mengabaikan ketakutannya, dan dengan tekun mengikuti instruksi demi instruksi. Hasilnya, pesawat menembus awan tebal dan mendarat dengan selamat. Seluruh keluarganya luput dari maut.


Dalam hidup ini, kita sering kali dihadapkan pada situasi di mana masa depan tampak begitu gelap dan berkabut. Masalah ekonomi, pergumulan keluarga, atau sakit penyakit yang tidak kunjung sembuh membuat kita kehilangan arah. Kita tidak bisa melihat ujung dari penderitaan kita. Di tengah situasi seperti inilah, Rasul Paulus menuliskan sebuah kebenaran universal tentang esensi dari pengharapan Kristen.


Kisah nyata Doug White menggambarkan dengan sangat baik bagaimana pengharapan Kristen bekerja di tengah badai kehidupan yang dicatat dalam Roma 8:24-25; percaya dan berharaplah dahulu pada janji-Nya, maka kita akan melihat kemuliaan-Nya. Pengharapan sejati adalah mempercayai bahwa Tuhan memegang kendali dan mengijinkan mengendalikan langkah kita, bahkan ketika mata kita hanya melihat jalan buntu.


Ketika hidup kita terasa kacau, perasaan kita sering membisikkan kekuatiran dan ketakutan, di saat seperti itu kita harus mematikan suara-suara ketakutan kita dan mulai mendengarkan "Pengawas Radar Agung" kita, yaitu Firman Tuhan dan tuntunan Roh Kudus. Menanti dengan tekun berarti tetap taat melakukan bagian kita hari demi hari, sampai kita keluar dari badai tersebut.


Jika hari ini Saudara merasa sedang "terbang buta" dalam menghadapi masa depan, pekerjaan, atau keluarga, pasanglah kembali sepasang headphone iman Anda. Dengarkan suara-Nya melalui firman Tuhan, taruh pengharapanmu pada hal-hal kekal yang belum kelihatan, dan berjalanlah dengan tekun. Tuhan yang menuntun Anda tidak akan pernah salah membawa Anda sampai ke tempat pendaratan yang aman dan penuh kemuliaan. Amin.


Pokok Doa :

1. Untuk kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia di tengah krisis kepercayaan yang sedang terjadi.

2. Untuk persatuan dan kesatuan gereja-gereja Tuhan dalam hati Kristus.


Pdt. Lucas Adhitya Aryanto Sudarmadi

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.