TUHAN ADA DALAM DERITA
Kejadian 37 : 12 - 36
Bacaan kita hari ini menceritakan kebaikan Yusuf yang taat akan perintah ayahnya dan kecintaannya kepada saudara2nya yang menggembalakan ternak sangat jauh dari rumah mereka. Saya katakan sangat jauh karena jarak antara Hebron dan Dotan kira2 100 km. Itu berarti bahwa Yusuf harus berjalan berhari hari untuk bertemu kakak2nya.
Tetapi jerih lelah perjalanan jauh dan kerinduannya bertemu kakak2nya, tidak berbalas kebaikan. Baru saja kakak2nya melihat Yusuf dari kejauhan, mereka segera merencanakan untuk membunuh dia. "Dari jauh mereka telah melihat dia. Namun, sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bersekongol untuk membunuhnya" (18).
Mereka memeng tidak jadi membunuh dia, tetapi setelah mereka melucuti jubahnya mereka membuangnya ke dalam sumur kering dan pada akhirnya menjualnya kepada saudagar2 Midian sebagai budak seharga dua puluh syikal perak. Harga sebuah barang bukan manusia.
Secara manusia, minimal dihadapan kakak2nya hidup dan masa depan Yusuf sudah berakhir. Dengan dijual sebagai budak, ia sudah kehilangan segalanya. Ia tidak lagi punya hak atas hidupnya, karena sebagai budak, hidupnya ada dalam kuasa tuannya.
Sebagai manusia, dalam diri Yusuf pasti timbul banyak pertanyaan. Apa salahku, hingga kakak2ku tega berbuat sejahat ini?. Seandainya saja ayah tidak menyuruh aku, ini semua tidak akan terjadi. Dimanakah Tuhanku, koq membiarkan ini terjadi?. Tidakkah Ia mampu mencegah derita ini?. Bagaimana nanti perasaan ayahku?. Dan masih banyak pertanyaan lain.
Dipihak lain dibacaan kita ada berita kepiluan yang dialami Yakub di Hebron. Mengapa Yusuf anak kesayangannya yang mati? Mengapa bukan anak yang lain ?. Mengapa saudara2 Yusuf tidak mampu menolongnya?. Dimana Tuhan yang ia sembah, bukankah Ia berdaulat penuh, Maha tahu dan mahakuasa?. Mungkin juga Yakub menyalahkan dirinya. Mengapa ia menyuruh anak kesayangannya itu, bukan yang lain ?.
Gambaran kepiluan Yakub diungkapkan : "Semua anaknya laki2 dan perempuan berusaha menghibur dia, tetapi ia menolak dihibur. Katanya: Tidak!. Aku akan berkabung, sampai aku turun mendapatkan anakku ke dunia orang mati. Demikianlah ditangisi oleh ayahnya".(35).
Penderitaan, mampu menghanyutkan orang dalam ratapan kekecewaan, kepedihan, kepahitan, kebencian, putus-asa, dendam kesumat, bahkan mempertanyakan di mana Tuhan, bila fokus pada penderitaan semata.
Oleh sebab itu, bila penderitaan menimpa kita, kita harus berhati-hati dan mohon hikmat Tuhan dalam menanggapi dan menjalani masa2 penderitaan itu.
Perikop bacaan kita diakhiri dengan sebuah kalimat yang nampak ada kelanjutannya. "Sementara itu, Yusuf dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pembesar Firaun, kepada pengawal raja".(36).
Benar saja, dalam terang pasal 39, penderitaan Yusuf berubah menjadi narasi sukacita karena ada penyertaan Allah. Allah tidak duduk diam jauh di sana, tapi Ia hadir dalam setiap peristiwa Yusuf.
Demikian pula, ketika kita berbuat baik. Mungkin saja perbuatan baik kita mengakibatkan penderitaan dalam diri kita. Ingatlah bahwa apapun yang diakibatkan oleh perbuatan baik kita termasuk penderitaan, Tuhan tidak jauh dari kita. Tuhan hadir dan menolong kita dalam setiap situasi hidup kita. Teruslah berbuat baik. Sehingga penderitaan itu justeru membuat kita menjadi pribadi yang kuat dan berkualitas.
Doa Pribadi :
- Berdoa untuk anggota jemaat yang sakit, yang berduka, yang sdg menderita karena berbuat baik.
- Berdoa untuk gereja kita dan acara2 di bulan misi.
Pdt. Em. Anthon Karundeng.