TOLERANSI DAN BATU SANDUNGAN

  •  Gerald Raynhart Stephen
  •  

Bacaan: Roma 14:13-23


"Masyarakat yang bertoleransi." Nampaknya istilah toleransi ini kerap kali kita dengar. Apalagi khususnya di daerah-daerah yang beragam penduduknya, mulai dari ragam budaya, tradisi, agama dan kepercayaan. Lalu apakah maksud dari toleransi ini? Apakah berarti kita harus menuruti seluruh tradisi dan kepercayaan setempat secara mentah-mentah? Ataukah hanya mengikuti sebagian kepercayaan setempat?

Rasul Paulus membahas hal ini dalam suratnya pada jemaat di Roma. Rasul Paulus memang tidak berkata tentang toleransi melainkan mengajarkan bahwa kita tidak boleh menjadi batu sandungan bagi orang lain. Paulus membuka pengajarannya dengan sebuah pemahaman dan keyakinan bahwa pada dasarnya di dalam Tuhan Yesus tidak ada sesuatu yang najis, tetapi memang bagi sebagian orang ada yang meyakini bahwa sesuatu itu najis dan pada akhirnya hal itu menajiskan mereka (ay. 14). Menariknya Paulus juga membahas soal makanan yang menajiskan atau bisa kita sebut dengan makanan haram dan halal. Terkadang perihal ini juga membutuhkan sebuah toleransi di dalam hidup bermasyarakat.

Di Indonesia kita menghadapi cukup banyak saudara-saudara kita yang sangat mempersoalkan makanan yang haram dan halal ini. Contohnya saja makanan seperti daging babi, anjing, bahkan sapi. Hal ini membuat kita perlu melihat konteks daerah dimana kita tinggal. Kepercayaan setempat itu sangat mempengaruhi gaya hidup dan juga masyarakat yang ada. Maka dari itu penting sekali sebagai orang percaya kita tidak menggunakan hak istimewa kita yang tidak menajiskan apapun itu dengan sesuka hati kita. Sebab jika kita dengan sesuka hati melakukan sesuatu yang najis bagi masyarakat atau agama setempat kita telah menyakiti hati mereka dan dengan demikian kita tidak mengasihi mereka seperti apa yang Tuhan kehendaki (ay. 15). Lebih lagi Paulus juga menyampaikan "apa yang baik jangan biarkan difitnah (ay.16)." Maksudnya adalah sesuatu yang benar di hadapan Tuhan tetapi ketika  dilakukan dan menjadi sandungan bagi orang lain membuat kebenaran itu menjadi sesuatu yang salah dan buruk bagi orang tersebut.

Dan sekali lagi penekanannya bukan sekadar masalah makan dan minuman yang menajiskan, melainkan ajaran kasih dan damai sejahtera yang sedang diabaikan (ay. 17, 19). Rasul Paulus tidak sedang mengajarkan kita untuk turut dalam menajiskan sesuatu dengan alasan toleransi kepada masyarakat setempat, karena hal tersebut justru bertentangan dengan keyakinan tentang di dalam Yesus tidak ada sesuatu yang najis. Ini adalah masalah menjadi batu sandungan bagi orang lain (ay. 20-21). Sebab ketika kita dengan sengaja memakan makanan yang najis bagi orang lain di saat kita tahu makanan itu najis bagi orang tersebut, kita sedang tidak mengasihi mereka dan justru mengabaikan kedamaian dan relasi kita dengan mereka. Namun demikian bukan berarti kita kemudian turut menajiskan sesuatu seperti yang dilakukan oleh masyarakat setempat, melainkan menghargai tradisi mereka dan tetap menjaga kasih antar sesama.

Rasul Paulus menutup pengajaran dengan satu hal yang menarik yaitu bahwa apa yang kita yakini di dalam Tuhan biarlah tidak menjadi sesuatu yang membuat kita bimbang (ay. 22). Maksudnya adalah kita tetap mempertahankan apa yang kita yakini di dalam Tuhan sebagai kebenaran dan tidak menjadi ragu karena kepercayaan atau tradisi setempat. Sederhananya adalah dengan toleransi bukan berarti kita menjadi ragu akan kebenaran melainkan justru berpegang pada kebenaran dan tidak menjadi batu sandungan. 

Dalam konteks kita di Indonesia mungkin kita akan bertemu dengan banyak tradisi-tradisi dan juga kepercayaan tertentu. Maka dari itu kita sebagai orang percaya perlu yakin bahwa tidak ada yang najis dalam nama Yesus, tetapi lebih penting lagi untuk tidak menjadi batu sandungan bagi saudara-saudara kita yang menjaga tradisi dan kepercayaan mereka. Kita tidak turut menajiskan apa yang mereka najiskan tetapi kita menghargai mereka dengan penuh kasih karena Tuhan juga mengasihi mereka. Toleransi tidak membuat kita bimbang dan justru mengabaikan kebenaran. Toleransi mengajak setiap orang percaya untuk tidak menjadi batu sandungan bagi ornag lain.

Pokok Doa:
1. Pergumulan Studi dan Pekerjaan Remaja-Pemuda GKI Coyudan
2. Rangkaian acara Bulan Misi
3. Pergumulan jemaat yang sedang sakit dan lanjut usia