TENTANG BAHASA KASIH
Beberapa waktu yang lalu, panitia bulan keluarga mengadakan acara intimate dinner. Walaupun saya sendiri tidak termasuk dalam kategori yang berhak dan bisa mengikuti acara itu (ini bukan kalimat ekspresi iri ya, Bapak/Ibu sekalian hahaha!) – saya mengamati jalannya acara tersebut dari video dan foto yang diunggah teman-teman di media sosial. Berdasarkan hasil pengamatan, saya menyimpulkan bahwa ekspresi cinta sepasang suami istri bisa sangat beragam, bisa berubah-ubah, dan sering kali tidak terungkap melalui tindakan yang simbolik atau formal. Ekspresi cinta dari sepasang kekasih biasanya masih mudah terungkap dan terwujud dalam upaya-upaya simbolik yang romantis. Seiring berjalannya waktu, ekspresi cinta di antara sepasang kekasih yang kemudian menikah sekian lama bisa sangat lain. Saya sendiri mengamati proses tersebut terjadi pada diri kedua orang tua saya. Semakin mereka tua, kesetiaan mereka tidak serta merta terwujud dari manisnya ungkapan sayang, pelukan, gombalan, tetapi justru dari kekhawatiran, nada tinggi yang memaksa pergi ke dokter, omelan karena makanan favorit Ibu saya dihabiskan tanpa izin, dan tindakan-tindakan lain yang sama sekali tidak terkesan intimate. Jika orang lain lihat, mungkin hal tersebut terkesan menyedihkan. Saya pun sempat berpikir demikian. Akan tetapi, jika saya banding-bandingkan dengan pasangan yang usia pernikahannya lebih dari Bapak dan Ibu saya, sekilas polanya terlihat demikian. Paling tidak itu yang anak-anak lihat. Sesekali boleh ya, romantisasi bulan keluarga disoroti dari sudut pandang anak yang sudah tidak berusia kanak-kanak lagi.
Saya lantas teringat, ada seorang pendeta yang dengan kasualnya berkata “Bina pranikah itu ya… undang saja itu oma opa yang sudah menikah sekian puluh tahun, suruh mereka cerita suka dukanya berumah tangga. Jangan cuma disuruh baca ayat-ayat saja, tapi belajar langsung dari yang pengalaman.” Walaupun pendeta ini bukan termasuk kategori bapak gembala yang memiliki sifat penyabar seperti pendeta-pendeta GKI Coyudan yang kita cintai, beliau ini memiliki pemikiran yang sangat amat kritis dan ceplas-ceplos. Saya kagum pada tulisan-tulisan serta cara pandangnya tentang kasih Tuhan dan Kekristenan. Di balik karir gemilang serta pemikiran briliannya, banyak cerita pilu dan perjuangan pelik yang harus beliau hadapi bersama keluarganya (jika ingin tahu pendetanya siapa, nanti tanya saya secara pribadi ya!) Dari kalimat pendek yang diungkapkannya, saya yang masih belum memiliki pengalaman berumah-tangga ini dibuatnya berpikir semalaman. Betul juga. Pasangan yang dinobatkan untuk menjadi pendamping kita sampai maut kelak memisahkan, merupakan manusia yang berproses dan berubah-ubah – sama hal nya dengan kita sendiri. Apakah kita siap untuk menerima kejutan perubahan-perubahan bahasa kasih sepanjang hayat kita berkeluarga?
Lebih lanjut, saya berpikir bahwa bahasa kasih tidak hanya berlaku bagi pasangan suami dan istri, tetapi juga antara orang tua dan anak. Seandainya intimate dinner kemarin dibuat seri lanjutannya menjadi intimate family dinner, mungkin kita juga akan melihat bahwa seiring berjalannya waktu, cara anak-anak mengungkapkan kasih sayangnya pada orangtuanya (dan sebaliknya) juga mengalami penyesuaian-penyesuaian. Jika waktu kecil anak-anak dengan ceria berkata “Aku sayang mamah dan papah!”, bandingkanlah dengan ketika mereka sudah berusia dewasa. Pasti. Saya jamin. Mereka akan lebih canggung mengatakan kalimat itu – dan mungkin memilih mengatakannya pada bestie-bestie dan pacar-pacar mereka kelak.
Apakah kemudian, ketika kita tidak mengungkapkan kalimat-kalimat cinta, berarti kita tidak lagi mencintai pasangan dan orang tua kita? Bisa iya dan bisa tidak. Loh. Kok ada “iya”nya? Jangan lupa, selain hal mencintai kita juga terbiasa menyakiti. Siapa yang paling tersakiti dengan keras kepala dan aneh-anehnya kita? Ya pasti orang terdekat kita. Dalam perjalanan hidup berkeluarga, pasti ada saat-saat dimana perhatian pudar, cinta tidak lagi hangat, kata-kata tidak lagi menyejukkan. Tetapi dia tetap keluarga yang seumur hidup diberikan Tuhan menjadi pasangan dan orang tua/anak kita. Sebagai manusia biasa, saya pribadi berpendapat bahwa romantisme sepanjang hayat adalah utopia dan hiperbola. Seandainya betul, dalam bina pranikah diundang oma-oma dan opa-opa yang sudah lebih dari 50 tahun menikah, pasti kita juga melihat banyak air mata dan sakit hati yang ditimbulkan oleh keluarga kita. Tapi itulah keluarga bukan? Saling menyakiti – tidak hanya mencintai. Persoalannya adalah, seberapa kita tahan, tangguh, tatag, dan teteg untuk melewatinya sebagai satu entitas yang dipersatukan dan dibentuk oleh Kristus?