SUKARELA DAN TULUS IKHLAS

  •  Daniel Kristanto Gunawan
  •  

Bacaan: 1 Tawarikh 29: 17b

"Aku tahu, ya Allahku, bahwa Engkau adalah penguji hati dan berkenan kepada keikhlasan, maka akupun mempersembahkan semuanya itu dengan sukarela dan tulus ikhlas."

Apa yang terjadi jika kita memberi dengan terpaksa? jelas hati akan terasa tidak enak dan sesuatu yang diberikan itu pasti akan berwujud ala kadarnya. Orang yang menerima pun juga akan merasa tidak enak. Akhirnya momen kasih itu tidak akan terwujud. 

Itu pun dengan manusia, apalagi dengan Tuhan. Betul memang, Tuhan tidak bergantung pada apa yang kita berikan. Tetapi bukan berarti kita memberikan sesuatu yang ala kadarnya atau seenak kita kepada Tuhan bukan?

Apalagi jika mengingat apa yang sudah Tuhan berikan buat kita. Anugerah keselamatan, berkat kehidupan, penyertaan, dan lain sebagainya. Apakah kita pantas jika memberikan kepada-Nya dengan ala kadarnya? 

Bacaan Alkitab kita pagi ini adalah bagian pujian Daud bagi Tuhan mengenai rencana pembangunan Bait Allah. Kala itu, untuk pertama kalinya Kerajaan Israel membangun Bait Allah. Semua umat mengumpulkan harta sebagai persembahan untuk membangun Rumah Allah itu. Termasuk juga Raja Daud sendiri.

Daud meminta Tuhan menguji setiap hati umat, khususnya hatinya. Ini sebagai bagian pengingat bukan hanya bagi Daud tapi juga bagi umat bahwa persembahan yang layak dimulai dari hati yang sukarela dan tulus ikhlas.

Doa: "Ujilah hati kami Tuhan, ajarlah kami memberi dengan sukarela dan tulus ikhlas. Amin"

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.