SUDUT PANDANG
Renungan Harian GKI Coyudan
Selasa, 17 Desember 2024
Sudut Pandang
Bilangan 16:12-14
Adapun Musa telah menyuruh orang untuk memanggil Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, tetapi jawab mereka: "Kami tidak mau datang. Belum cukupkah, bahwa engkau memimpin kami keluar dari suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya untuk membiarkan kami mati di padang gurun, sehingga masih juga engkau menjadikan dirimu tuan atas kami? Sungguh, engkau tidak membawa kami ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ataupun memberikan kepada kami ladang-ladang dan kebun-kebun anggur sebagai milik pusaka. Masakan engkau dapat mengelabui mata orang-orang ini? Kami tidak mau datang."
Pernahkah kita menilai cara pandang kita terhadap segala sesuatu? Apakah itu selalu tepat atau jadi bumerang bagi diri kita sendiri? Dalam bacaan Bilangan, digambarkan bagaimana Datan dan Abiram melihat segala peristiwa yang terjadi berdasarkan sudut pandang mereka sendiri yang menilai bahwa apa yang dilakukan Musa adalah hal yang tidak benar menurut pandangan mereka.
Penilaian tersebut mendatangkan pemberontakan Datan dan Abiram disebabkan mereka kecewa terhadap kepemimpinan Musa. Awalnya, Datan dan Abiram dipanggil untuk menyampaikan keluhan mereka (ay. 12). Tetapi mereka tidak mau menaati panggilan Musa, entah karena mereka tidak sanggup mengatakan apa yang ingin mereka katakan di hadapannya, karena malu, dan karena mereka tidak mau mengakui wewenang Musa sejauh sebagai imam yang pimpin mereka.
Menurut sudut pandang Datan dan Abiram, Musa telah berbuat sangat jahat kepada mereka dengan membawa mereka keluar dari Mesir. Mereka menilai Musa telah menipu mereka dengan membesarkan harapan-harapan mereka akan sebuah negeri yang sangat baik, dan kemudian memupuskannya, karena ia tidak membawa mereka ke "negeri yang berlimpah susu dan madu" dan tidak memberikan "ladang dan kebun anggur sebagai milik pusaka" kepada mereka.
Musa dianggap berencana membiarkan mereka mati di padang gurun. Jadi dianggap musa membawa mereka keluar dari "negeri yang berlimpah susu dan madu" supaya mereka binasa di padang gurun (13-14). Jelas ini tidak benar. Bukan Musa yang menyebabkan mereka sengsara di padang gurun. Itu karena dosa mereka sendiri. Lagi pula dengan menganggap Mesir sebagai "negeri yang berlimpah susu dan madu", berarti mereka menghina Allah. Karena dari sanalah Allah memerdekakan mereka dan menjadikan mereka umat-Nya.
Mereka juga anggap Musa
tidak adil, karena ia mengelabui mata orang-orang yang maksudnya bawa mereka ke mana saja yang ia kehendaki, supaya mereka tidak dapat melihat diri mereka sedang diperdaya.
Kita bisa perhatikan, orang yang bijaksana dan baik seperti Musa sekalipun tidak dapat menyenangkan setiap orang.
Dari kisah ini, kita menjadi mengerti bahwa memandang segala sesuatu berdasarkan kepentingan diri sendiri, seperti yang dilakukan Datan dan Abiram dan Korah di perikop sebelumnya, terbukti tidak selalu benar. Sebab iri hati dan membenarkan diri atas dasar kepentingan diri sendiri akan pasti mendatangkan hal yang tidak baik cepat atau lambat.
Oleh karenanya, menjadi hal yang penting untuk mengambil sudut pandang yang benar bukan berdasarkan sudut pandang kita sendiri tetapi bagaimana kita mau belajar melihat segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita berdasarkan sudut pandang dari Allah. Kiranya Roh Kudus memampukan kita. Amin.
Pokok Doa :
- Kondisi kesehatan Pendeta, TPG, Penatua, Karyawan gereja, Jemaat dan Simpatisan GKI Coyudan
- Persiapan rangkaian Acara Natal-Tahun Baru
Sdri. Rizki Listya Survinda