SIAPA SAUDARA KITA?

  •  Sujud Swastoko
  •  


Matius 12:46-50

”Sebab, siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan, dan ibu-Ku.” (ay.50 TB-2)

Terkadang dalam hidup ini, seorang teman atau sahabat terasa lebih dekat dan menjadi saudara yang sesungguhnya dibandingkan dengan saudara kandung. Karena mereka kita anggap lebih mengerti dan memahami diri kita, dibandingkan saudara sendiri yang kadang tidak memiliki kepedulian terhadap diri kita.

Pada saat kita mengalami masalah, justru teman itulah yang memberikan pertolongan, bahkan sampai mengorbankan waktu dan kekayaannya untuk membantu kita. Sedangkan saudara kita sendiri tidak ambil pusing dengan persoalan yang kita hadapi. Tentu, tidak semua keluarga seperti ini. Karena banyak juga keluarga yang baik dan memiliki ikatan yang kuat sebagai saudara.

Namun, adanya anggapan bahwa seorang teman kedekatannya melebihi saudara kandung, menunjukkan bahwa ikatan persaudaraan dalam sebuah keluarga terkadang tidak sekuat ikatan dengan orang lain yang sepemahaman atau se-visi dengan kita. Hal itu terjadi biasanya karena fungsi keluarga belum berjalan baik, yaitu belum memberikan rasa aman, terbuka, peduli, dan kasih. Jika fungsi keluarga berjalan baik, maka rasa persaudaraan itu akan terasa dan mengikat.

Dalam bacaan firman Tuhan hari ini, kita menyadari bahwa ada ikatan lain yang lebih kuat dibandingkan dengan ikatan keluarga secara duniawi, yaitu ikatan sebagai anggota keluarga Allah. Ketika Tuhan Yesus sedang berbicara kepada orang banyak dalam rumah ibadat, Ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berusaha menemui Dia, tetapi mereka kesulitan karena banyaknya orang yang berada di tempat ibadah tersebut. 

Oleh karena itulah kemudian ada orang yang memberitahu Tuhan Yesus bahwa Ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya sedang berada di luar dan ingin berbicara dengan-Nya. Tetapi yang mengejutkan adalah pertanyaan Tuhan Yesus, _”Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?”

Seolah Tuhan Yesus menolak mengakui ibu dan saudara-saudara-Nya yang sedang berada di luar rumah ibadat. Bahkan Tuhan Yesus sendiri mengatakan, ”Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku” sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya. 

Kemudian Ia melanjutkan perkataan-Nya, ”Sebab, siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan, dan ibu-Ku.”  Apakah Tuhan Yesus tidak menganggap penting hubungan keluarga? 

Apa yang dikatakan Tuhan Yesus tersebut bukan berarti hubungan keluarga itu tidak penting. Tuhan Yesus sangat menghargai hubungan dalam keluarga, bahkan Dia juga dibesarkan dalam keluarga Yusuf bersama saudara-saudara-Nya hingga dewasa. Tetapi, Tuhan Yesus hendak memberikan pengertian kepada murid-murid-Nya bahwa ada hubungan lain yang lebih dari saudara dalam keluarga di dunia, yaitu saudara dalam keluarga Allah. 

Saudara dalam keluarga Allah adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa di surga. Itu berarti setiap orang yang melakukan firman Allah dan percaya kepada Tuhan Yesus dan meneladani-Nya, maka mereka merupakan saudara dalam Kristus untuk selama-lamanya.

Oleh karena itu, kita yang telah menjadi keluarga Allah harus menunjukkan kepedulian dan rasa kasih, serta ketaatan dalam melaksanakan kehendak Allah di bumi ini. Kita bisa menunjukkan sebagai anggota keluarga Allah melalui keteladanan hidup yang sesuai firman Tuhan, baik di tengah-tengah keluarga maupun dalam persekutuan orang-orang percaya. 

Kiranya Tuhan menolong dan memberkati kita semua. Amin.

Pokok Doa
1. Pelaksanaan Ibadah Minggu besok.
2. Situasi politik di Tanah Air tetap terkendali dan damai.
3. Persiapan masa Adven.

Sujud Swastoko

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.