MEMBERITAKAN ALLAH YANG DIKENAL BAGI YANG TIDAK MENGENALNYA
Renungan warta 10 Mei 2026
Memberitakan Allah yang Dikenal Bagi yang Tidak Mengenalnya
Kisah Para Rasul 17: 3
Pemberitaan Injil mengalami transformasi besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir. Dahulu Injil diberitakan dengan cara konvensional seperti pergi ke tempat tertentu, mengumpulkan massa, membagikan traktat, menceritakan Injil ke beberapa orang yang ditemui secara acak. Kini, pola tersebut diadaptasi sehingga lebih modern dan kontekstual. Gereja dan orang Kristen memberitakan Injil dengan cara baru dengan menggunakan teknologi dan media digital sebagai kendaraannya. Pemberitaan akan Allah menjadi begitu masif karena dilakukan dengan berbagai bentuk, perspektif, dan memiliki satu tujuan yang sama: agar Allah dikenal, dimengerti dengan tepat, sehingga orang menjadi percaya dan mengenal pribadi Allah.
Semangat ini yang terus diteladankan dan diwariskan oleh para rasul sebagai murid langsung Tuhan Yesus dan juga rasul Paulus yang mengalami perjumpaan spiritual dengan Tuhan Yesus. Paulus dalam perjalanan pemberitaan Injil memberikan petunjuk penting kepada kita bagaimana memiliki semangat menyala-nyala agar Allah dikenal oleh bangsa-bangsa lain. Kerinduan Paulus berdasar pada apa yang telah Kristus lakukan baginya, dan bagi setiap orang percaya. Karya Kristus di atas kayu salib adalah satu-satunya alasan mengapa Paulus bertekad memberitakan Injil dengan cara yang ia bisa. Dalam kesempatan yang berbeda-beda, Paulus dengan bergantung pada hikmat Allah, memberitakan Injil dan menceritakan kepada para pendengar tentang apa yang telah Tuhan Yesus Kristus perbuat bagi orang berdosa. Tidak ada isi Injil yang lain selain daripada Yesus Kristus (Kis 17: 3). Paulus rindu setiap orang memiliki kesempatan setidaknya sekali mendengar tentang siapa Yesus. Paulus mendambakan ada begitu banyak orang bertobat, berbalik dari hidup yang sia-sia, berpindah dari maut kepada hidup, dan hidup mengikut Kristus.
Apakah semangat Paulus masih menyala-nyala di dalam hati kita? Panggilan memberitakan Injil bukanlah untuk sebagian kecil orang percaya. Namun ini tugas setiap orang percaya, termasuk saya dan Anda. Dalam berbagai profesi, kemampuan, dan keadaan, Allah mempercayakan panggilan ini kepada kita sebagai utusan-Nya. Tugas kita bukanlah mempertobatkan orang lain, tapi mengenalkan Kristus dengan cara yang kita mampu, dan membiarkan kuasa Roh Kudus bekerja.
Percakapan dengan tetangga, obrolan dengan pembeli, konseling dengan murid di sekolah, pembicaraan dengan teman di sebuah coffee shop, pertemuan kita dengan orang lain di pesawat, unggahan pemikiran kita/repost konten kristen di sosial media, dan berbagai macam cara serta kesempatan. Pembicaraan yang natural, tidak dibuat-buat, dan jika Tuhan berkenan, di situlah ada kesempatan yang Tuhan bukakan. Pemberitaan Injil akan menjadi suatu yang natural, apa adanya, yang bisa kita lakukan kapanpun. Inilah arti dari pemberitaan Injil. Allah yang memperlengkapi kita untuk menolong seseorang selangkah lebih dekat kepada Kristus, hingga nantinya dalam kesempatan lain, ia akan berjumpa dengan Kristus dan percaya kepada-Nya.
(Bp. Bobby Widya Ardianto)