SEKALI UNTUK SELAMANYA

  •  Johan Chandradinata
  •  

RENUNGAN HARIAN GKI COYUDAN

Kamis, 20 November 2025

Bacaan: Ibrani 9:23-28




Dalam dunia ini ada banyak hal yang harus diulang.

Setiap hari kita harus makan supaya tidak lapar. Dan ketika kita lapar, kita harus makan lagi. Begitu juga dengan minum, kita harus minum lagi supaya tidak haus. Atau hal lainnya seperti tidur, mandi, bekerja, dan lain sebagainya.

Dalam hal iman, orang Israel juga melakukan hal yang sama. Mereka harus mempersembahkan kurban supaya dosa mereka diampuni, dan ketika mereka berbuat dosa lagi, maka mereka harus berkurban lagi. Kurban-kurban harus dipersembahkan berulang-ulang, tahun demi tahun, karena manusia terus jatuh dalam dosa. Pengulangan yang terus terjadi ini sebenarnya menunjukkan bahwa manusia hidup dalam ketidaksempurnaan. Namun penulis Ibrani menampilkan sebuah kenyataan yang mengubah seluruh pemahaman manusia tentang keselamatan:

Ada satu karya Allah yang tidak perlu diulang lagi, suatu tindakan ilahi yang final, sempurna, dan berlaku untuk selamanya: pengorbanan yang dilakukan oleh Kristus.


Ibrani 9:23-28 mengungkapkan bahwa Kristus bukan hanya seorang imam seperti yang ada dalam sistem ibadah orang Israel yang lama, tapi Dia adalah Imam besar yang melampaui segala bentuk ritual manusia. Ibadah di bumi hanyalah bayangan dari realitas surgawi, dan para imam membawa darah korban ke ruang suci buatan tangan manusia. Tapi Kristus masuk ke dalam ruang suci yang sejati, yaitu hadirat Allah sendiri, dan Ia masuk bukan dengan darah binatang, melainkan dengan mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban yang sempurna. Perikop ini menegaskan bahwa karya Kristus tidak perlu diulang karena kualitas pengorbanan-Nya berbeda dari apa pun yang pernah ada. Kurban binatang harus terus diulang karena tidak pernah benar-benar menuntaskan masalah dosa; tapi Kristus, dengan satu tindakan penyerahan diri-Nya, telah meruntuhkan jarak antara Allah dan manusia. Karya-Nya tidak bersifat sementara, melainkan abadi. Karena itu, penulis Ibrani menolak gambaran bahwa Kristus harus berkali-kali mati, sebab kematian-Nya satu kali itu telah mencakup seluruh sejarah manusia.


Di tengah penegasan itu, penulis mengingatkan bahwa manusia pun hanya hidup dan mati satu kali. Dengan kata lain, hidup kita tidak berulang. Tidak seperti ritus yang dapat diulang setiap tahun, hidup kita bergerak ke depan dengan satu arah. Setiap pilihan dan setiap respon iman itu punya nilai di hadapan Allah. Dan di puncak teks ini, Ibrani menegaskan bahwa Kristus akan datang kembali. Tapi kedatangan-Nya nanti bukan untuk menanggung dosa lagi (itu sudah Ia selesaikan) melainkan untuk membawa keselamatan penuh bagi mereka yang menantikan-Nya. Karya Kristus yang pertama menyelesaikan dosa, dan karya-Nya yang kedua kelak akan menyempurnakan pengharapan kita.


Renungan ini mengajak kita melihat bahwa di balik segala hal yang berulang dalam hidup, Allah telah memberikan satu kepastian yang tidak berubah: keselamatan yang tuntas melalui Kristus. Kita tidak perlu hidup dalam ketakutan tentang kelayakan kita di hadapan Allah, karena Kristus telah membukakan jalan itu bagi kita. Kini yang bisa kita lakukan adalah hidup dengan kesadaran bahwa hidup kita punya nilai yang kekal dan kita menantikan kedatangan-Nya dengan iman dan kasih. Kiranya firman ini meneguhkan kita untuk berjalan dalam syukur dan pengharapan. Amin.


Pokok Doa:

1. Pelayanan Gereja di tengah dunia.

2. ⁠Relasi seluruh ciptaan (manusia dan alam).

3. ⁠Orang yang sakit, lemah, dan tertindas.


Johan Chandradinata

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.