SEDERHANA NAMUN BERMAKNA
Renungan Harian GKI Coyudan
Sabtu, 9 November 2024
Sederhana Namun Bermakna
Ayub 16:2
Di tengah akun-akun media sosial yang nyaring dalam bersuara, akun
tiktok @hioutthereitsmesteve yang awalnya sempat bingung mengisi akunnya dengan
konten apa ini memilih untuk mengisi mayoritas konten tiktoknya dengan tidak bersuara,
melainkan mendengarkan. Mendengarkan pengguna media sosial tiktok yang kesepian
dan butuh mencurahkan isi hati mereka. Bila kita telah menonton kontennya,
mungkin sebagian kita akan menganggap aneh. Tapi, ternyata tidak bagi orang
yang benar-benar merasa kesepian dan butuh mencurahkan hati mereka. Karena
adanya kebutuhan untuk didengarkan oleh sesama, tetapi karena situasi dan
kondisi yang tidak ideal, maka ada orang-orang yang menggunakan konten akun tersebut
menjadi alternatif untuk mencurahkan isi hati mereka.
Di satu sisi, apa yang dilakukan Steve menginspirasi dan mengajak kita
untuk menjadi pendengar yang baik ketika ada orang-orang yang butuh curhat,
tetapi di sisi lain ini juga menjadi ironi: apakah pada masa kini, kita memang
kekurangan pendengar-pendengar curhat yang baik? Padahal, mendengarkan
sekalipun sederhana, sangat bermakna dan menjadi cara yang efektif dalam
menolong orang lain.
Pertolongan ini yang sebenarnya dibutuhkan Ayub dari para sahabatnya. Memang mereka sempat duduk bersama dengan Ayub selama berhari-hari dalam keheningan, “karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya” (Ayub 2:13), tapi mereka justru tidak mendengarkan Ayub ketika ia mulai “curhat” pada mereka. Sebaliknya, mereka berbicara terus namun malah gagal menghibur Ayub hingga ia menyatakan kekesalannya dalam pasal 16:2. Hal ini pun tergambar pada pasal 31:35 dimana ia berseru lagi, “Ah, sekiranya ada yang mendengarkan aku!”
Mendengarkan artinya, “apa yang penting bagiku penting juga bagimu dan
sebaliknya”. Terkadang, orang memang membutuhkan saran ataupun nasihat ketika
ada dalam masa sulit. Namun, kerap kali yang mereka butuhkan dari kita yang dipercaya
sebagai tempat curhatnya hanyalah keinginan untuk didengarkan. Didengarkan oleh
seorang yang mengasihi dan juga peduli terhadap mereka.
Mendengarkan adalah hal yang sederhana, tapi begitu bermakna. Karena
sekalipun sederhana, mendengarkan juga butuh upaya serta waktu. Waktu yang
benar-benar digunakan untuk mendengarkan akan membuat pendengarnya memahami
betul maksud hati saudara atau kerabat yang sedang mencurahkan isi hatinya. Sehingga
bilapun berbicara itu diperlukan, kita dapat melakukannya dengan sikap yang
bijak dan penuh pengertian. Ya, pada akhirnya, memang tempat curhat yang sejati
bagi setiap kita tetaplah Kristus, tapi mari kita ingat bahwa sebagai sahabat
Kristus, Ia tidak hanya menghendaki kita untuk mencurahkan isi hati kepada-Nya
melainkan juga menjadi tempat curhat yang bijak bagi sesama kita di dunia ini.
Pokok Doa :
- Gumul-juang jemaat dalam menghadapi permasalahan hidup mereka
- Persiapan ibadah minggu
- Persiapan rangkaian kegiatan natal
Rizki Listya Survinda