SANG TELADAN

  •  Gerald Raynhart Stephen
  •  

Renungan Harian GKI Coyudan

Rabu, 23 Oktober 2024

Bacaan: Yohanes 13:12-17


Sang Teladan


Orang jawa mengatakan bahwa "guru" itu memiliki arti "digugu lan ditiru." Yang artinya menjadi guru itu harus bisa dipercaya dan diteladani. Murid yang baik juga adalah murid yang dapat meneladani sang guru. Terlepas dari baik atau tidaknya ajaran sang guru, murid yang benar tentulah mencerminkan sang guru. Bagaimana dengan kita yang adalah murid-murid Kristus?


Dalam terjemahan bahasa inggris, murid-murid Yesus tidak disebut "student" melainkan "disciple". Kedua hal tersebut berbeda sekalipun memiliki arti yang sama yaitu murid. Letak perbedaannya adalah student adalah murid yang belajar di sekolah yang hanya menerima materi pelajaran-pelajaran akademik saja. Sedangkan disciple adalah murid yang meggambarkan dan mencerminkan sang guru, bahkan beberapa ahli berkata ketika seorang bertemu dengan si disciple, orang itu langsung mengenali sang guru karena semua terlihat jelas.


Dalam perikop yang kita baca Yesus sedang melakukan sebuah tindakan yang di luar nalar murid-murid-Nya. Di malam terakhir perjamuan makan mereka, Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Tindakan itu tentu mengejutkan sebab tidak pernah seorang guru yang lebih tinggi jabatannya dari murid-muridnya melakukan pembasuhan kaki yang adalah tindakan yang rendah dan dilakukan kepada murid-muridnya. Petrus bahkan hendak menghentikan Yesus ketika kakinya hendak di basuh oleh Yesus. Tetapi Yesus melakukannya dan kemudian mengatakan bahwa tindakan itu adalah sebuah teladan.


Apa artinya teladan itu? Yesus berkata bahwa jika murid-murid sungguh menganggap Yesus sebagai guru maka sudah seharusnya mereka meneladani tindakan Yesus yaitu saling membasuh kaki satu dengan lainnya. Bahkan Yesus memberi penekanan bahwa seorang murid tidak lebih tinggi dari guru, dan seorang utusan tidak lebih tinggi dari yang mengutus. Artinya adalah bahkan seorang guru mau melakukan tindakan yang rendah seperti membasuh kaki, bukankah seharusnya murid-murid juga melakukan hal itu. 


Melalui hal ini kita belajar bahwa Yesus turun ke dalam dunia bukan sekadar untuk menghapus dosa, melainkan juga memberi teladan nyata yang dapat dilihat oleh mata kepala manusia sendiri. Yesus yang adalah Tuhan itu merendahkan diri-Nya untuk turun ke dalam dunia dan menjadi sama dengan manusia. Ia juga menunjukkan bahwa kita yang percaya dan menganggap Yesus sebagai Guru dan Tuhan, sudah seharusnya melakukan tindakan yang rendah seperti yang telah Ia lakukan. Merendah bukanlah hal yang mudah, tetapi marilah kita memandang kepada Tuhan kita yang telah lebih dulu meneladankan kerendahan tersebut.


Dalam keadaan apapun berusahalah untuk tidak lebih tinggi dari orang lain. Kita semua sama di mata Tuhan, baik orang percaya maupun yang tidak percaya, kita sama-sama manusia berdosa yang membutuhkan anugerah keselamatan dari Tuhan. Dalam keluarga, dilingkungan masyarakat, tempat kerja, sekolah, atau dimanapun kita berada berusahalah untuk hidup rendah hati. Tuhan telah memberi teladan yang luar biasa untuk dapat kita lakukan. Mari menjadi disciple yang membuat setiap orang yang melihat kita, dapat melihat Yesus juga.


Pokok Doa:

1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja pemuda GKI Coyudan

2. Rangkaian bulan keluarga

3. Pemerintahan yang baru

4. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia


Gerald Raynhart Stephen

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.