BELAS KASIH
RENUNGAN HARIAN
GKI COYUDAN SOLO
Rabu, 10 Juni 2026
Belas Kasih
Matius 12:1-8
”Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang bersalah.” (ay.7)
Masih ingat peristiwa yang menimpa Hogi di Yogya tahun lalu? Saat itu dia mengejar penjambret yang merampas tas istrinya. Namun, pengejaran tersebut berujung tewasnya penjambret karena kecelakaan. Kemudian Hogi dijadikan tersangka karena dianggap menjadi penyebab tewasnya penjambret. Ia juga dituntut ganti rugi oleh keluarga penjambret.
Banyak yang mempertanyakan, mengapa Hogi ditetapkan sebagai tersangka, padahal saat itu dia sedang membela istrinya, mempertahankan tas yang dijambret. Pihak penuntut berdalih, dia telah melanggar hukum hingga menewaskan orang lain. Memang, akhirnya Hogi dibebaskan setelah ada desakan dari masyarakat dan Komisi III DPR.
Bandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Frank Caprio. Dia dikenal sebagai hakim Pengadilan Kota Providence, Rhode Island, Amerika Serikat yang adil dan bijak. Salah satu kisah yang menarik adalah saat dia mengadili seorang kakek. Kakek itu diadili karena melanggar batas kecepatan saat mengendarai mobil.
Hakim Frank Caprio menyampaikan pelanggaran yang telah dilakukan kakek itu, dan kemudian dengan bijak menanyakan berapa usia kakek itu, yang ternyata berusia 96 tahun. Dari pertanyaan itu kemudian muncul kisah yang mengharukan. Ternyata kakek itu terpaksa mengemudi karena harus mengantar anaknya yang berusia 63 tahun untuk cuci darah, dua kali seminggu.
Setelah mendengar penjelasan kakek itu, Hakim Frank Caprio kemudian memutuskan untuk menolak kasus tersebut dan kakek itu dinyatakan bebas. Bahkan, dia memuji kakek tersebut yang sangat peduli pada keluarganya, walau di usia yang sudah lanjut masih mengantar anaknya ke rumah sakit. Dia juga mendoakan agar kakek dan anaknya diberikan kesehatan yang baik oleh Tuhan.
Dalam bacaan pagi ini kita melihat bagaimana orang Farisi lebih mementingkan hukum daripada belas kasih. Mereka mengatakan kepada Tuhan Yesus, bahwa para murid telah melanggar hukum hari Sabat, karena mereka memetik bulir gandum di hari Sabat. Di sinilah Tuhan Yesus meluruskan tentang keberadaan hari Sabat bagi manusia.
Orang Farisi telah terjebak pada tradisi yang menekankan bahwa “manusia itu untuk hari Sabat”, bukan “hari Sabat untuk manusia”. Akibatnya, mereka menuhankan hari Sabat. Namun, Tuhan Yesus menyampaikan bahwa imam-imam juga melanggar kekudusan hari Sabat. Selain itu, Daud dan orang-orangnya makan roti sajian di dalam Rumah Allah, padahal mereka tidak boleh makan roti tersebut karena mereka bukan imam. Namun, mereka tidak dipersalahkan.
Dalam hal inilah maka Tuhan Yesus mengatakan bahwa yang dikehendaki Allah adalah belas kasihan, bukan persembahan. Bagi kita, ini berarti bahwa saat menjalani kehidupan ini, kita harus menunjukkan belas kasih, dan jangan sampai terbelenggu aturan-aturan atau tradisi yang membuat kita tidak peduli kepada sesama.
Oleh karena itu, marilah kita terus menunjukkan belas kasih dan kepedulian kepada sesama dan lingkungan kita. Kiranya Tuhan menolong dan memberi hikmat kepada kita untuk mewujudkan kasih yang dari Allah untuk sesama manusia. Amin.
Pokok Doa
1. Rapat Bidang Majelis Jemaat malam ini.
2. Kondisi ekonomi, politik, dan sosial di Tanah Air, agar menjadi lebih baik.
Sujud Swastoko