“MURID YANG TUNDUK PADA FIRMAN”
Renungan warta 7 Juni 2026
“MURID YANG TUNDUK PADA FIRMAN”
Yohanes 8 : 30-47
Sebagai murid Kristus, apakah yang sudah kita lakukan dalam hidup kita? Sering kali kita mengaku dengan bangga bahwa kita adalah murid Tuhan, tetapi justru kebingungan ketika harus mengatakan hal apa yang sudah kita lakukan untuk Tuhan. Panggilan untuk menjadi murid adalah panggilan untuk hidup sesuai dengan standar Kristus, bukan standar dunia. Lalu apa saja yang harus dilakukan seorang murid yang tunduk kepada Firman Tuhan :
Mencintai Allah diatas segalanya dan mencintai sesama seperti diri sendiri.
Cinta kepada Sang Pencipta bukanlah sekadar ucapan, melainkan penyerahan diri secara total. Ketika kita mencintai Allah dengan segenap hati, pikiran dan jiwa maka prioritas hidup kita secara otomatis akan selaras dengan kehendak-Nya. Dan perintah mencintai sesama adalah cerminan dari cinta vertikal (kepada Allah) yang diwujudkan secara horizontal (kepada manusia). Cinta kepada sesama menuntut kita untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Kita tidak bisa mengklaim mencintai Allah jika kita membenci atau menyakiti ciptaanNya. Sebaliknya, cinta sejati kepada sesama manusia akan tumbuh subur ketika hati kita dipenuhi oleh cinta kepada Sang Pencipta.
Hidup seturut kehendakNya.
Hidup seturut kehendakNya adalah proses penyerahan diri untuk menjadikan rancanganNya sebagai kompas utama. Ini berarti menyelaraskan tindakan kita dengan firmanNya, mengutamakan kasih, melayani sesama, dan percaya bahwa jalanNya meski terkadang penuh ujian selalu membawa damai sejahtera dan tujuan yang indah bagi kita. Untuk dapat hidup seturut dengan kehendakNya, maka kita harus :
Melibatkan Tuhan dalam Setiap Rencana: seringkali kita membuat rencana dan meminta Tuhan untuk memberkatinya. Hidup seturut kehendakNya berarti membalik prosesnya, mencari kehendak Tuhan terlebih dahulu, lalu membiarkan rencanaNya menjadi langkah kita.
Taat pada Perkara Kecil: ketaatan besar seringkali dibangun dari hal-hal kecil. Menjalankan tanggung jawab harian sebagai pelajar, karyawan, pedagang, pengusaha atau anggota keluarga dengan penuh integritas adalah bentuk nyata melakukan kehendak-Nya.
Melepaskan Kekhawatiran: Saat kita menyerahkan hidup sepenuhnya, kita diajak untuk tidak lagi dikuasai oleh kecemasan. Percayalah bahwa pemeliharaan Tuhan jauh lebih besar daripada masalah yang sedang kita hadapi.
Berbuah bagi sesama: Tuhan memanggil kita tidak hanya untuk diselamatkan, tetapi juga untuk menjadi berkat bagi sesama. Melakukan kehendak-Nya berarti membawa dampak positif dan kebaikan kepada orang-orang di sekitar kita.
Di dalam Yohanes 8 : 31 dikatakan “Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridku.” Dan jika kita mengaku diri sebagai murid-Nya, maka sudah semestinya kita taat dan tunduk kepada Tuhan, bukan kepada ego. Dengan merendahkan diri untuk tunduk kepada Tuhan, kita dapat mengarahkan hidup kita kepada Tuhan dengan mewujudkannya dalam hidup bagi sesama.
(Pnt. Lydia Kwa She Ing)