RITUAL KEHIDUPAN = KETAATAN DAN KETELADANAN KRISTUS

  •  Lucas Adhitya Aryanto Sudarmadi
  •  

Bacaan: Matius 9:14-17

Ritual keagamaan memang seringkali menjadi alat ukur untuk menilai iman seseorang. Jika seorang tidak melakukan ritual keagamaan tertentu yang dianggap penting, maka dengan mudah orang lain menilai bahwa iman orang itu kurang. Demikian juga halnya yang terjadi pada diri murid-murid Yohanes Pembaptis ketika mereka melihat bahwa murid-murid Yesus tidak melakukan puasa sebagaimana biasa dilakukan murid-murid Yohanes Pembaptis dan juga orang-orang Farisi.

Murid-murid Yohanes Pembaptis dan orang Farisi memang secara teratur dan rutin melakukan puasa, bukan hanya pada Hari Raya, tetapi juga dilakukan secara rutin pada hari Senin dan Kamis serta yang waktu-waktu khusus; dan hal ini memang umum dilakukan masyarakat Yahudi pada masa itu. Itulah sebabnya kenapa murid-murid Yohanes Pembaptis mempertanyakan hal tentang tidak berpuasanya para murid Tuhan Yesus. Pertanyaan ini menyiratkan bahwa murid-murid Yohanes mempertanyakan pengajaran Yesus dan meminta penjelasan?

Yesus mengajarkan bahwa puasa adalah bentuk keprihatinan dan dukacita dalam menantikan kedatangan Tuhan. Itulah sebabnya para murid Yesus tidak diperintahkan untuk berpuasa karena mereka masih bersama-sama dengan Dia, sang Mesias yang dinantikan. Barulah kemudian ketika Yesus mati di kayu salib, para murid berpuasa dalam dukacita mereka karena kehilangan Yesus.

Tuhan Yesus menekankan bahwa kedatangan-Nya adalah untuk membawa sesuatu yang baru, yang juga harus diterima dengan cara berpikir dan bersikap yang baru. Bukan lagi tentang kehidupan ritual keagamaan semata, tetapi tentang cara beriman yang baru, yaitu kehidupan bersama dengan Tuhan. 

Menjadi seorang Kristen tidak boleh menjalani kehidupannya dengan cara hidup yang lama, tetapi dengan cara hidup yang baru yang diajarkan dan diteladankan Tuhan Yesus; Jika tidak demikian maka kehidupan iman kepada Tuhan akan menjadi sia-sia. Karena itu marilah kita meninggalkan cara hidup yang hanya bertolak pada ritual keagamaan, lalu beralih pada  cara hidup dalam anugerah Allah yaitu hidup meneladan pada Kristus Yesus dalam ketaatan pada kehendak Bapa-Nya dan dalam keteladanan hidup-Nya (yang mengutamakan kasih dan pengampunan Allah).

Pokok Doa :

  1. Berdoa untuk mereka yang sakit dan dalam pergumulan (sebutkan nama-nama orang yang ingin Saudara doakan).
  2. Berdoa untuk Majelis Jemaat GKI Coyudan (para penatua dan pendeta) agar dapat bersinergi dalam pelayanan.
Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.