PERSEMBAHAN YANG HARUM

  •  Reggy Leo
  •  

RENUNGAN HARIAN GKI COYUDAN

Senin, 01 Desember 2025 


PERSEMBAHAN YANG HARUM


 Kejadian 8:1-22(TB 1)

"Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.(ay. 21)"


Peristiwa air bah dengan skala kecil terjadi lagi di Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatra Utara. Saya memakai kata kecil karena dibandingkan dengan apa yang terjadi di zaman Nuh, peristiwa banjir bandang di Tapteng masih kecil. Tetapi skala kecil itu telah menewaskan ratusan orang dan merugikan hampir satu provinsi karena terdampak banjir. Tidak ada yang mau disalahkan, meskipun begitu mereka tetap salah. Keserakahan manusia membawa bencana pada orang-orang yang tidak bersalah, padahal mereka hanya menginginkan hidup yang tenang. Hal itu juga yang terjadi pada peristiwa air bah, memang hanya manusia yang bersalah tetapi korbannya bukan hanya mereka.


Setelah air bah surut, Nuh keluar dari bahtera bersama keluarganya dan segala makhluk yang selamat. Respon pertama Nuh bukan membangun rumah, bukan mencari makan, dan bukan mengatur kembali kehidupannya, tetapi mendirikan mezbah dan mempersembahkan korban bagi Tuhan (ay. 20). Di sinilah inti dari teks ini, di tengah dunia yang baru saja dihukum, Tuhan mencium persembahan yang harum.


Frasa “persembahan yang harum” bukan berarti Tuhan menghargai bau asap kurban secara fisik. Dalam bahasa Ibrani, ini adalah idiom yang berarti Tuhan berkenan atas sikap hati Nuh. Persembahan itu bukan tentang dombanya, tetapi tentang iman, ketaatan, dan penyembahan yang lahir dari hati yang bersyukur.

Yang luar biasa, setelah mencium persembahan itu, Firman Tuhan berkata:

 “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia…”(ay. 21)


 Persembahan Nuh menjadi titik balik sejarah manusia dari murka menuju belas kasih. Di balik itu, kita melihat bayangan Kristus, persembahan yang harum itu mengarah kepada satu Pengantara yang sempurna, yaitu Kristus. Di tengah dunia yang jahat dan hancur ini, Tuhan tidak mencari ritual keagamaan tetapi persembahan yang harum. Karena persembahan yang harum itulah yang akan membawa pemulihan kepada dunia ini sama seperti Kristus. Pertanyaanya, sudahkah hidup kita menjadi persembahan yang harum di hadapan Tuhan?


Persembahan yang harum adalah hidup yang berkenan kepada Tuhan dan membawa pemulihan bagi dunia di sekitar kita. Ketika hidup kita membawa "aroma Kristus", Tuhan memakai kita untuk menolong mereka yang menderita, memperbaiki kerusakan, dan menyalurkan kasih karunia-Nya bagi banyak orang. 


Kiranya Tuhan menolong kita


Pokok Doa:

1. Berdoa untuk Digital Ministry GKI Coyudan agar dapat memperlengkapi setiap anggota jemaat dari segi spiritualitas maupun pengajaran

2. Berdoa untuk orang Kristen yang dipersekusi di dunia

3. Berdoa untuk masyarakat yang terkena bencana dimanapun mereka berada.


Reggy Leo

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.