PEKA MENGENAL DAN MENDENGAR SUARA TUHAN
Renungan Harian GKI Coyudan Solo
Jum’at, 9 Januari 2026
1 Samuel 3:10
Peka Mengenal dan Mendengar Suara Tuhan
Dunia ini penuh dengan suara-suara yang bermacam-macam bentuknya; suara kekecewaan bisa kita baca di media sosial, kebencian diserukan di berbagai tempat, bahkan termasuk di tempat ibadah, kemarahan dan bahkan kejahatan-kejahatan yang semakin menjadi-jadi dapat kita temukan di dalam berita-berita masa kini. Karena itu, tidak salah jika kita katakan bahwa tidak semua suara itu baik dan layak untuk didengarkan, hanya suara Tuhan saja yang selalu layak untuk didengarkan dengan segenap hati dan ditaati.
Dalam 1 Samuel 3, kita menemukan seorang anak bernama Samuel, di mana pada saat itu Samuel bukanlah seorang nabi besar, bukan juga pemimpin yang hebat, melainkan hanya seorang anak yang masih sangat muda, yang sedang belajar melayani Tuhan di bawah bimbingan imam Eli. Ia mendengar suara memanggil, tetapi belum mengenali siapa sumbernya suara itu. Diceritakan bahwa 3 kali suara itu datang, tiga kali pula Samuel tidak memahaminya.
Bukankah ini juga sering terjadi dalam hidup kita? Kita mendengar banyak suara : suara kebutuhan, suara ketakutan, suara ambisi, bahkan suara religius keagamaan. Tetapi, tidak selalu kita peka membedakan : mana suara Tuhan dan mana yang bukan ! Dari kisah Samuel ini kita mendapati bahwa kepekaan rohani tidak lahir dari usia, jabatan, atau pengalaman, melainkan dari hati yang mau belajar dan sikap yang mau taat.
Dibawah bimbingan imam Eli, Samuel akhirnya belajar berkata, “Berfirmanlah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar”, dan ini bukan kalimat pasif, melainkan pengakuan kesiapan. Mendengar, dalam Alkitab, selalu berarti siap juga untuk melakukan.
Menariknya, Tuhan tetap berbicara di tengah situasi yang tidak ideal. Imam Eli sudah tua dan penglihatannya mulai kabur (baik secara fisik maupun rohani), tapi tetap Tuhan pakai untuk mendidik Samuel muda itu, Tuhan tidak berhenti menyatakan kehendak-Nya. Imam Eli memenuhi tanggung jawabnya untuk mendidik Samuel menjadi pribadi yang peka pada suara Tuhan. Ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak mencari yang paling hebat, tetapi setiap orang yang mau dipakainya, dan terutama setiap orang yang siap mendengarkan DIA.
Kepekaan terhadap suara Tuhan dibentuk melalui keheningan, kerendahan hati, dan ketekunan di mana Samuel tidur di ruangan Bait Allah dekat pada tabut Tuhan. Bagaimana dengan kita sebagai umat Tuhan di masa kini ? Adakah kita pun memiliki tempat pribadi kita dengan Tuhan setiap hari ?! Di zaman yang bising ini, kita perlu sengaja menyediakan ruang untuk diam di hadapan Tuhan. Bukan hanya membawa daftar permintaan, tetapi membuka telinga dan hati.
Karena itu, pertanyaannya bukan, ”apakah Tuhan masih berbicara kepada umat-Nya ?”, tetapi , ”apakah kita masih cukup peka untuk mendengar suara-Nya dan mau mendengar dengan taat ?”. Kiranya doa Samuel menjadi doa kita setiap hari : “Berfirmanlah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar”. Amin.
Pokok Doa :
1. Untuk pertumbuhan iman jemaat GKI Coyudan Solo dalam kasih dan persahabatan yang sejati.
2. Untuk perkembangan pelayanan GKI Coyudan Solo.
Pdt. Lucas Adhitya Aryanto Sudarmadi