MISI BUKANLAH AGENDA KITA
(Yesaya 49: 6B)
“... Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa
supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”
Misi bukanlah agenda gereja, bukan pula keinginan orang percaya. Misi semata-mata hanyalah agenda dari Allah. Misi seringkali dipahami sebagai salah satu bagian yang muncul dalam narasi Alkitab. Ini adalah satu dari sekian banyak pelayanan yang dilakukan oleh para utusan-utusan Allah dan gereja.
Faktanya, dari kitab Kejadian sampai Wahyu, Allah memiliki satu tema besar dalam rencana-Nya, misi. Misi justru menjadi satu-satunya agenda Allah, dimulai dari penciptaan alam semesta, panggilan untuk berkuasa atas bumi, munculnya bangsa pilihan Allah, hadirnya Yesus Kristus di dunia untuk menyelamatkan manusia, orang percaya sebagai contoh nyata bagaimana hidup sebagai warga kerajaan Allah, hingga suatu saat nanti Yesus Kristus datang kembali untuk memulihkan segala sesuatu. Hati Allah kepada bangsa-bangsa agar berbalik kepada-Nya telah tercatat begitu jelas di sepanjang kisah Alkitab.
Ketika membaca kembali kitab suci, saatnya kita memperluas perspektif kita. Alkitab tidak saja berbicara tentang saya pribadi, tetapi apa kerinduan Allah bagi dunia, mengapa saya ada, dan apa kontribusi saya bagi dunia sebagaimana Allah telah mengutus saya. Kita ada saat ini untuk menjadi utusan-utusan Allah yang berpencar ke seluruh penjuru dunia, mewujudkan misi-Nya. Itulah mengapa Allah membuat kita menjadi terang bagi bangsa-bangsa agar keselamatan dari-Nya sampai ke ujung bumi (Yesaya 49: 6).
Misi Allah mungkin saja masih jauh dari kata “selesai”. Data dari sebuah lembaga misi bernama Joshua Project pada bulan Mei 2023, masih terdapat 42,4% penduduk bumi belum memiliki akses dan mendengar tentang Injil. Itu berarti 3.364.215.000 orang dari total 7.927.737.000 di dunia masih terpisah dari Injil! Di manakah mereka berada? Siapa yang akan menjangkau mereka kalau bukan kita, utusan-utusan Allah? Injil dan kasih Kristus tidak boleh hanya dirasakan di dalam gereja. Injil Kristus seharusnya dirasakan di dalam pasar, sekolah, kantor, pemerintahan, pengadilan, rumah sakit, kampung, arena olahraga, kantor polisi. Itu artinya, Ia mengutus setiap kita untuk menghadirkan cinta kasih-Nya kepada dunia, melalui profesi dan pekerjaan kita sehari-hari.
Langkah sederhana yang dapat kita lakukan setiap hari adalah berdoa demikian, “Tuhan, kiranya hari ini saya dipertemukan dengan orang-orang yang membutuhkan dan merindukan Engkau. Perlengkapi saya untuk dapat menolong mereka.” Bisa saja hari ini kita diutus Allah untuk:
<!-- [if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Membagikan kisah Injil kepada salah satu klien,
<!-- [if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Memberikan lauk dan nasi kepada tetangga yang sedang kesulitan finansial,
<!-- [if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Bercakap-cakap dengan penumpang di sebelah kita yang sedang murung,
<!-- [if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Berbagi cerita kepada sahabat lama yang sudah lama tidak bertemu,
<!-- [if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Mendoakan mereka yang berlaku tidak baik kepada kita.
Semua hal yang sedang kita lakukan adalah bagian dari misi Allah yang sedang kita wujudkan. (Pnt. Bobby Widya Ardianto)