MENGHAKIMI
Roma 2:1-11
”Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah tidak memandang bulu.” (ay.9-11)
Kecenderungan manusia setelah jatuh dalam dosa adalah berusaha untuk melindungi diri sendiri dan mencari kesalahan orang lain. Orang menjadi lebih mudah untuk menyalahkan orang lain, padahal hidupnya sendiri tidak benar. Dia seolah-olah menjadi orang yang paling benar dan suci, sedangkan orang lain yang berbuat kesalahan begitu mudah dihakiminya.
Dalam bacaan firman Tuhan kali ini, Tuhan mengingatkan agar kita tidak bgitu mudah menghakimi orang lain. Kita harus bisa memeriksa diri kita sendiri, atau melakukan refleksi diri, apakah kita tidak pernah melakukan kesalahan seperti yang dilakukan oleh orang itu. Kalau ternyata kita sendiri sebenarnya melakukan kesalahan, maka kita tidak layak untuk menghakimi. Justru kitalah yang seharusnya dihakimi.
Mengapa orang begitu mudah menghakimi, sementara dirinya melakukan kesalahan yang sama? Itu karena kekerasan hatinya yang tidak mau bertobat. Dia tidak mau mengakui kesalahannya, seolah-olah apa yang dilakukan itu bukan kesalahan. Tetapi saat orang melakukan kesalahan tersebut, dengan begitu mudah dia menyalahkan orang tersebut.
Firman Tuhan mengatakan, orang yang seperti ini tidak luput dari hukuman Allah. ”Engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah ang adil akan dinyatakan. Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” (ay.5,6).
Oleh karena itulah kita harus menyadari bahwa setiap manusia pada dasarnya telah berbuat dosa dan melakukan kesalahan. Sehingga yang diperlukan adalah pertobatan dan membawa orang lain yang telah melakukan kesalahan untuk hidup dalam pertobatan. Kita tidak berhak menghakimi orang lain karena penghakiman yang adil itu hanya bisa dilakukan oleh Allah sendiri.
Sebagai orang yang telah ditebus oleh darah Kristus, maka kita jangan fokus untuk menyatakan kesalahan orang lain, tetapi lebih fokus pada perbuatan baik yang harus kita lakukan. Pengharapan kehidupan kekal di dalam Yesus Kristus harusnya direspon dengan ucapan syukur yang ditandai dengan cara hidup yang sesuai kebenaran firman Tuhan.
Pada akhirnya semua orang yang berbuat baik akan menerima kemuliaan, kehormatan dan damai Sejahtera dari Allah. Oleh karena itu, dalam hidup ini, kita harus meneladani kehidupan Tuhan Yesus saat bersama para murid-Nya, yaitu memiliki belas kasih tanpa pamrih yang mendorong kita untuk terus melalukan kebaikan, seperti yang Allah kehendaki.
Kiranya Tuhan menolong kita untuk terus berbuat baik dan tidak saling menghakimi. Tuhan menyertai kita semua. Amin.
Pokok Doa
1. Penyertaan Tuhan memasuki minggu yang baru.
2. Konser kebangsaan tgl. 31 Agustus 2023.
3. Proses pencalonan penatua masa pelayanan tahun 2024-2026.
Sujud Swastoko