MENGASIHI YESUS
Bacaan: Matius 26:6-13
Kasih butuh sebuah pengorbanan. Tidak jarang kita harus mengorbankan sesuatu karena kita hendak mengasihi seseorang atau sesuatu yang kita anggap menjadi prioritas. Misalnya saja, ketika kita memiliki dua orang anak tentu kita akan mengasihi mereka berdua. Tetapi ketika satu anak sedang sakit dan harus dirawat di rumah sakit, tanpa mengurangi kasih kepada anak yang satu lagi, tanpa sadar fokus kita bisa lebih condong kepada anak yang sedang sakit, dan itu wajar. Kita akan terdorong untuk memfokuskan perhatian dan kasih kita kepada sesuatu yang kita anggap penting dan genting.
Berbeda dengan murid-murid Yesus yang justru gusar ketika seorang perempuan tiba-tiba datang dan menuangkan minyak wangi di kepala Yesus (ay. 7). Apakah murid-murid tidak senang jika Yesus diminyaki oleh perempuan tersebut? Bukan itu alasannya, tetapi murid-murid lebih memikirkan bahwa minyak wangi tersebut dapat dijual dengan harga mahal dan dapat dibagi-bagikan kepada orang miskin di sekitar mereka (ay. 8-9). Apakah salah jika murid-murid berpikir seperti demikian? Bukankah pemikiran murid-murid juga adalah pemikiran yang mulia?
Bagi Yesus, murid-murid telah keliru menaruh fokus dan perhatian mereka. Pada perikop sebelumnya, bahkan tercatat sama persis dengan Injil Markus, dan Injil Yohanes, di situ Injil Matius mencatat tentang pemberitahuan dan perencanaan imam-imam kepala untuk membunuh Yesus (ay. 1-5). Jadi pada waktu itu sebenarnya murid-murid sudah mendengar tentang detik-detik menjelang kematian Yesus, tetapi murid-murid seolah-olah tidak mendengar apa-apa. Kemudian malah keliru berfokus kepada harga minyak wangi tersebut.
Maka dari itu Yesus menegor murid-murid dan berkata bahwa orang miskin selalu ada bersama-sama mereka, tetapi Yesus tidak (ay. 11). Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus menegor murid-murid bukan karena Ia ingin dihormati melainkan ini adalah masalah kepentingan murid-murid. Jika murid-murid menganggap Yesus penting maka mereka harusnya menyadari apa yang dilakukan perempuan itu adalah tindakan yang baik karena Yesus sebentar lagi akan mati dan tidak akan bersama-sama dengan mereka. Sementara orang-orang miskin tidak akan habis jumlahnya dan akan selalu ada kesempatan untuk menolong mereka. Tindakan perempuan ini tidaklah salah karena ia hendak menghormati Yesus sebelum kematian-Nya. Ia memprioritaskan Yesus dan memilih untuk mengasihi Yesus.
Manakah yang menjadi prioritas kita? Apakah kita akan lebih mengasihi Yesus daripada siapapun di dunia ini? Tidak salah jika kita juga memikirkan hal yang sama seperti murid-murid yaitu mengasihi orang-orang miskin. Tetapi pada akhirnya mengapa kita mengasihi orang-orang miskin itulah yang penting. Jika kita mengasihi orang-orang miskin tersebut hanya agar terlihat baik, maka itu salah besar. Tetapi ketika kita mengasihi orang miskin karena kita hendak melayani Tuhan, seperti apa yang telah Yesus ajarkan juga pada pasal sebelumnya (25:40), itulah sesuatu yang baik dan benar dihadapan Tuhan, karena pada akhirnya nama Tuhan lah yang dimuliakan. Maka dari itu marilah kita tetap fokus mengasihi Yesus. Agar segala sesuatu yang kita kerjakan dan kita prioritaskan hanyalah untuk kemuliaan nama Tuhan.
Pokok Doa:
1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja-pemuda GKI Coyudan
2. Persiapan konser kebangsaan
3. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia
Gerald Raynhart Stephen