MENGAPA ENGKAU BIMBANG?
Renungan warta 9 Agustus 2026
MENGAPA ENGKAU BIMBANG?
ROMA 10: 5-15
Setiap orang pasti pernah mengalami kebimbangan. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Apakah aku bisa selamat?”, “Apakah hidupku sudah cukup baik?”, dan lain sebagainya, bisa saja muncul dan membuat hati kita bimbang. Kebimbangan itu pula yang kemudian menghasilkan keraguan, jika dibiarkan terus menerus. Wajarkah orang percaya bimbang dan ragu akan keselamatannya?
Rasul Paulus mempertentangkan kebenaran oleh hukum Taurat—yang menuntut kesempurnaan—dengan kebenaran oleh iman. Ia berkata “jangan bertanya siapa yang naik ke surga atau turun ke jurang maut, karena Kristus telah melakukannya bagi kita. Firman itu dekat: di mulut dan di hatimu (ay. 6-8).” Itulah iman yang menyelamatkan, yakni mengaku dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati bahwa Allah membangkitkan Dia (ay. 9). Keselamatan bukan hasil dari usaha manusia, melainkan anugerah yang diterima dengan tangan iman semata. Maka dari itu, kita tidak perlu bimbang. Kepastian keselamatan terletak pada karya Kristus yang tuntas, bukan pada perasaan atau kelayakan diri kita.
Lebih lagi Paulus juga melanjutkan dengan berkata “namun, bagaimana orang dapat percaya jika tidak mendengar? Dan mendengar jika tidak ada yang memberitakan? (ay. 14).” Di sinilah keraguan berikutnya sering muncul: "Aku tidak mampu bersaksi." Paulus justru mengarahkan mata kita pada keindahan panggilan itu: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!" (ay. 15). Bukan kehebatan pemberita yang ditampilkan, melainkan kedatangan kabar baik dalam kedaulatan Allah yang memakai pemberitaan sebagai sarana keselamatan. Sekali lagi, jangan bimbang, sebab Tuhan sendiri yang mengutus dan menyertai.
Kebimbangan adalah sesuatu yang bisa saja muncul ketika kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi. Tetapi kepastian keselamatan itu sudah kita miliki. Maka mari terus percaya dan tidak bimbang lagi akan hidup kita di tangan Tuhan. Ia yang berdaulat. Ia yang memastikan anugerah keselamatan melalui karya-Nya. Ia juga yang menyertai hidup kita untuk menjadi saksi-Nya.
(Bp. Gerald Raynhart Stephen, S.Th.)