MENDENGARKAN SEKALIPUN TIDAK MENYENANGKAN
Bacaan: Kisah Para Rasul 7:51-53
Keras kepala berarti berpendirian teguh, menganggap pilihannya yang paling benar dan tidak menerima pendapat orang lain, (pada hal diri sendiri belum tentu benar). Terus, bagaimana perasaan kita, ketika bertemu dan berbicara dengan orang yang keras kepala? Tentunya kita akan merasa kesal, atau jengkel.
Stefanus juga menghadapi orang-orang yang keras kepala, di dalam Kisah Para Rasul 7 ini, yang menceritakan tentang pembelaan Stefanus, yang dituduh telah menghina Musa dan Allah. Menjelang akhir pembelaannya, Stefanus menyampaikan teguran kepada para imam besar, bahwa mereka (para imam besar ini) adalah orang yang keras kepala dan senantiasa menentang Roh Kudus. Begitu keras sehingga mereka tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan bahwa mereka keliru. Mereka juga menutup telinga sehingga tidak dapat mendengar kabar yang Tuhan ingin sampaikan. Mereka sudah mengeraskan hati sehingga tidak bersedia menerima kehadiran Kristus.
Stefanus mengingatkan orang-orang yang menghakiminya bahwa penolakan kepada kebenaran sudah dilakukan sejak para leluhur mereka. Para nabi dianiaya. Bahkan, ketika Allah sendiri datang dengan menjadi manusia, mereka tidak bersedia menerima-Nya. Hal itu dikarenakan ketidaksediaan mereka untuk mendengarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan dan kepentingan mereka.
Kita pun sering menerima ajaran, teguran, atau nasihat. Tidak semuanya enak didengar. Bisa jadi tidak enak didengar karena cara menyampaikannya. Namun, bisa juga karena tidak sesuai dengan harapan dan kepentingan kita. Belajar dari nasihat Stefanus, kita harus bersedia memilih membuka telinga dan hati kita untuk mendengarkan sekalipun tidak menyenangkan.
Pokok Doa:
1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja-pemuda GKI Coyudan
2. Persiapan penutupan bulan Anak pada hari minggu
3. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia
Porfida Jonito Adu