MENDENGAR PANGGILAN TUHAN

  •  Johan Chandradinata
  •  

RENUNGAN HARIAN GKI COYUDAN

Kamis, 8 Januari 2026

Bacaan: 1 Samuel 3:1-9


Mendengar Panggilan Tuhan

Di tengah kesibukan hidup sehari-hari, kita akrab dengan banyak suara. Notifikasi ponsel, tuntutan pekerjaan, urusan keluarga, berita yang datang silih berganti. Suara-suara itu begitu ramai sampai kadang kita sulit membedakan mana yang benar-benar penting.

Dalam kehidupan iman pun sering kali demikian. Kita sering terlibat dalam tugas pelayanan, tergabung dalam berbagai kegiatan gereja, tetapi ketika Tuhan berbicara, kita tidak selalu peka mendengarnya. Bukan karena Tuhan tidak berbicara, melainkan karena kita belum terbiasa mendengar suara-Nya. Kisah Samuel menolong kita belajar bagaimana Tuhan memanggil dan bagaimana seharusnya kita merespons.


1. Tuhan Berbicara di Saat Kita Menjalani Rutinitas

Saat Tuhan memanggil, Samuel tidak sedang melakukan hal besar. Ia sedang tidur di rumah Tuhan, menjalani tugasnya seperti biasa. Namun justru di tengah rutinitas itulah Tuhan memanggilnya.

Hal ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak hanya berbicara lewat peristiwa luar biasa. Tuhan sering menyapa kita lewat hal-hal sederhana: saat mendengarkan firman, saat berdoa, lewat perjumpaan dengan orang lain, atau lewat pergumulan hidup sehari-hari.


2. Tidak Langsung Mengenali Suara Tuhan Itu Wajar

Samuel mendengar namanya dipanggil, tapi ia salah mengira itu suara Eli. Bahkan sampai tiga kali. Samuel bukan anak yang malas atau tidak taat, ia justru langsung bangun dan datang. Kalau kita merasa bingung membedakan kehendak Tuhan, itu bukan tanda iman yang gagal. Mengenal suara Tuhan adalah proses. Yang penting adalah sikap hati yang mau mendengar dan mau taat ketika dipanggil.


3. Tuhan Mengajar Kita untuk Mendengar dengan Rendah Hati

Ketika Eli menyadari bahwa Tuhanlah yang memanggil Samuel, ia mengajarkan satu kalimat sederhana:

“Berfirmanlah, Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar.”

Kalimat ini bukan sekadar kata-kata, tetapi sikap hati. Mendengar Tuhan berarti siap diarahkan, ditegur, bahkan diubah. Tuhan berbicara bukan hanya untuk memberi kenyamanan, tetapi untuk membentuk hidup kita.


Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa kita bisa saja sibuk melakukan banyak hal di rumah, di pekerjaan, bahkan di gereja, tetapi lupa untuk sungguh-sungguh mendengarkan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita.

Melalui kisah Samuel, kita diajak untuk kembali memiliki hati yang sederhana dan terbuka. Hati yang mau diajar, mau diarahkan, dan mau taat. Tuhan tidak mencari orang yang paling hebat atau paling berpengalaman, tetapi orang yang bersedia berkata dengan jujur: “Berbicaralah, Tuhan, aku mau mendengar.”


Pokok Doa:

1. Pelayanan Gereja di tengah dunia.

2. ⁠Relasi seluruh ciptaan (manusia dan alam).

3. ⁠Orang yang sakit, lemah, dan tertindas.


Johan Chandradinata

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.