MEMOHON TANPA MENUNTUT
RENUNGAN HARIAN GKI COYUDAN
SABTU, 11 OKTOBER 2025
MEMOHON TANPA MENUNTUT
LUKAS 5: 12-16
Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang kulitnya penuh dengan penyakit menular. Ketika ia melihat Yesus, sujudlah ia dan memohon, "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku. "
Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu, dan berkata, " Aku mau, jadilah tahir. " Seketika itu juga penyakit kulit itu meninggalkan dia (ayat 12-13).
Dalam kalangan masyarakat Yahudi, orang yang sakit kusta dipandang sebagai orang yang najis. Menderita sakit kusta adalah aib, sehingga orang yang menderita sakit kusta harus diasingkan dari keluarga dan masyarakat.
Orang yang sakit kusta, bukan hanya menderita secara fisik, tetapi juga secara psikhis mereka menderita, mereka harus memikul beban yang berat, secara tubuh mereka merasakan sakit, masih harus berhadapan dengan pandangan orang terhadap dirinya sebagai orang yang najis hingga harus hidup dipisahkan dengan lingkungan sosialnya.
Dalam kondisi yang sedemikian itulah, seorang kusta ketika melihat Yesus, sujud dan memohon dalam kerendahan hatinya di hadapan Tuhan Yesus. Ia yakin bahwa Tuhan Yesus berkuasa untuk menyembuhkannya, tetapi ia tidak menuntut dan memaksa Tuhan untuk melakukannya. Ia yakin kuasa itu ada pada Yesus, tetapi semua ada dalam kehendak dan perkenananNya.
Dan bagaimana reaksi Tuhan Yesus atas permohonan dalam iman dan kerendahan hati orang kusta ini?
1.Tuhan Yesus mengulurkan tanganNya, menyentuh orang itu. Orang lain akan menghindar supaya tidak bertemu dengan orang yang dianggap najis itu, tetapi Tuhan Yesus tidak menghindarinya, tidak berlari meninggalkannya, tetapi Tuhan mengulurkan tangan dan menyentuhnya.
2.Yesus berkata:" Aku mau, jadilah tahir. "
Permohonan yang tidak memaksa dan menuntut, tetapi permohonan yang disampaikan dalam iman dan kerendahan hati itu Tuhan berkenan. Tuhan Yesus mau menjamah dan memulihkan orang kusta itu.
Ketika orang menganggap dirinya sebagai orang yang najis, sangat mungkin membuat orang kusta itu merasa tidak pantas dan tidak layak untuk meminta kepada Tuhan, meski dia tahu bahwa Yesus mampu untuk menyembuhkan dan memulihkannya.
Kalau Tuhan berkenan, maka hal itu tidak sulit untuk diwujudkan. Semua adalah kemurahan Allah, kasih karunia Allah.
Belajar dari orang kusta ini untuk setiap kali datang di hadapan Allah dengan iman dan dalam kerendahan hati, tidak dengan menuntut dan memaksa Tuhan untuk melakukan apa yang kita mau. Banyak orang merasa pantas dan memiliki hak untuk memaksakan keinginannya diwujudkan Tuhan, namun hari ini diingatkan, bahwa semua adalah kasih karunia dan kemurahan Allah, bukan karena kita layak dan punya hak untuk menuntut dan memaksakan keinginan kita.
Tuhan kiranya menganugerahi hikmat dan pengertian bagi kita ????????
Pokok Doa:
1.Rangkaian kegiatan bulan keluarga
2.Persiapan Natal
Maria S