MELANGKAH DALAM PANGGILAN TUHAN

  •  Johan Chandradinata
  •  

RENUNGAN HARIAN GKI COYUDAN

Selasa, 20 Januari 2026

Bacaan: Kejadian 12:1-9


Melangkah dalam Panggilan Tuhan

Dalam hidup, kita sering merasa nyaman dengan apa yang sudah kita kenal: tempat tinggal, pekerjaan, kebiasaan, bahkan cara kita beriman. Perubahan sering kali terasa menakutkan karena mengandung ketidakpastian. Namun, iman justru sering kali dimulai ketika Tuhan mengajak kita melangkah keluar dari zona nyaman itu. Kisah Abram dalam Kejadian 12:1–9 mengajak kita belajar tentang iman yang taat, meski belum melihat hasilnya secara jelas.


Perikop ini menandai awal panggilan Tuhan kepada Abram. Tuhan memerintahkan Abram untuk meninggalkan negerinya, sanak saudaranya, dan rumah ayahnya menuju negeri yang akan Tuhan tunjukkan. Menariknya, Tuhan tidak langsung menjelaskan secara detail ke mana Abram akan pergi. Yang Tuhan berikan adalah janji: Abram akan menjadi bangsa yang besar, namanya akan masyhur, dan melalui dia semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.


Respons Abram sangat sederhana namun dalam: [ay.4] “Lalu pergilah Abram, seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya.” Abram taat, meski ia tidak tahu secara pasti apa yang akan ia hadapi. Dalam perjalanannya, Abram membangun mezbah di Sikhem dan di antara Betel dan Ai. Mezbah itu menjadi tanda bahwa di tengah ketidakpastian perjalanan, Abram tetap menempatkan Tuhan sebagai pusat hidupnya.


Kisah Abram sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini. Tuhan juga memanggil kita, bukan selalu untuk berpindah tempat secara fisik, tetapi untuk melangkah dalam ketaatan: meninggalkan cara hidup lama, pola pikir yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, atau rasa aman yang membuat iman kita mandek. Sering kali Tuhan tidak langsung menunjukkan seluruh rencana-Nya, tetapi meminta kita percaya dan melangkah setahap demi setahap.


Seperti Abram yang membangun mezbah, kita diajak untuk tetap menjaga relasi dengan Tuhan di tengah proses hidup. Mezbah itu bisa berarti waktu doa, kesetiaan beribadah, dan kepekaan mendengar suara Tuhan. Di sanalah iman dipelihara, dan ketaatan diteguhkan.


Kejadian 12:1–9 mengingatkan kita bahwa iman sejati bukan tentang mengetahui segalanya terlebih dahulu, melainkan tentang percaya kepada Tuhan yang memanggil. Abram menjadi berkat bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia mau taat dan melangkah bersama Tuhan.


Pesan firman ini sederhana namun kuat: ketika Tuhan memanggil, marilah kita belajar untuk percaya, taat, dan terus membangun “mezbah” dalam hidup kita. Di tengah perjalanan yang mungkin penuh tanda tanya, Tuhan setia menyertai dan menggenapi janji-Nya. Amin.


Pokok Doa:

1. Pelayanan Gereja di tengah dunia.

2. ⁠Relasi seluruh ciptaan (manusia dan alam).

3. ⁠Orang yang sakit, lemah, dan tertindas.


Johan Chandradinata

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.