Renungan Minggu
Warta Terbaru
Acara Terdekat
Renungan Terbaru
REJECTION THERAPHY
21-06-2026
JANGAN ADA IRI HATI
19-06-2026
DIPULIHKAN DAN DIBENTUK
18-06-2026
MENGANDALKAN TUHAN
17-06-2026
Belakangan ini khalayak
ramai sedang menggemari olahraga lari. Event marathon mendadak banyak
diselenggarakan oleh berbagai institusi. Bahkan tak jarang orang-orang pergi ke
luar negeri untuk mengikuti event marathon bereputasi. Saya mengenal sepasang
suami istri yang meluangkan waktu pergi ke Jerman bulan ini untuk mengikuti
Berlin Marathon – kalau tidak salah tahun ini tepat peringatan akbar ke-50
event ini. Mereka sudah rutin melatih fisik sejak 6 bulan sebagai langkah
persiapan mengikuti race di Berlin Marathon, menargetkan full
marathon – 42 km dalam durasi waktu yang ditentukan. Di saat yang hampir
bersamaan, di Jakarta juga terselenggara event Jakarta Running Festival (JRF).
Saya sendiri tidak gemar lari, tetapi banyak
mendengar cerita dari teman-teman saya yang selalu gembira jika mencapai
target-targetnya. Saya juga banyak melihat latihan-latihan yang harus dilakukan
supaya bisa menyelesaikan race dengan sukses. Singkat cerita, teman saya
yang sehari-hari tinggal di iklim panas Indonesia ini berhasil dengan gemilang
menyelesaikan 42 km Berlin Marathon dalam kondisi suhu udara yang jauh dibawah
kebiasaan badan khatulistiwa ini. Beberapa hari kemudian, muncul berita terkait
JRF yang membuat saya terkejut. Nampaknya event JRF hampir memakan korban.
Panas dan lembabnya suhu Jakarta membuat orang lokal sendiri kesulitan untuk
menyelesaikan ‘perlombaan’ ini. Ada seseorang yang dikabarkan sempat kritis
karena memaksakan diri berlari dalam kondisi detak jantung tinggi dan berlari
di tengah kelembapan udara yang tinggi. Nampaknya beliau tersebut juga bukan
amatir.
Saya yakin semua olahraga menekankan
pentingnya mengelola limit fisik dan pemulihan selama dan pasca latihan. Seberapapun
ahli seorang olahragawan, semua menekankan pemulihan atau cooling down
atau recovery. Memaksakan tubuh untuk terus bergerak dalam kondisi
jantung sudah terlalu lelah bisa berakibat fatal. Tetapi seringkali, melambat
dalam ‘perlombaan lari’ merupakan hal yang sangat sulit dilakukan, terutama
jika kita merasa kita mampu dan sudah pernah melewati situasi yang mirip
sebelumnya. Misalnya, saya sudah sering menaklukan 42 km di marathon-marathon
sebelumnya, jadi kenapa saya harus berhenti di tengah jalan sekarang? Bukankah
memalukan? Apalagi performa buruk ini akan tercatat di media sosial yang bisa
dibaca komunitas saya. Apalagi tinggal beberapa kilometer menuju garis finish.
Dan apalagi apalagi lain yang sebetulnya merupakan wujud ego.
Kehidupan kita sering dianalogikan dengan
marathon. Di satu sisi kita dididik untuk mendorong diri melewati rintangan
dalam kondisi badan yang mungkin sudah remuk redam. Namun disisi lain, kita
harus tahu kapan harus melambat. Melambat di saat yang salah bisa berdampak
negatif bagi pertumbuhan diri. Tidak melambat ketika harus melambat juga bisa
berakibat fatal.
Dalam konteks kehidupan berkeluarga, pemulihan merupakan bentuk
pengelolaan ego. Dalam situasi-situasi kritis dimana keluarga menghadapi sebuah
ujian, berhenti sejenak untuk bersama-sama memulihkan kondisi menjadi momen
yang sangat amat penting. Memaksakan diri untuk terus ‘berlari’ dalam keadaan
psikis keluarga yang tidak stabil dapat menjadi penyebab ledakan emosi yang
fatal. Keputusan-keputusan yang diambil ketika tensi tinggi biasanya tidak
didasari dengan kebijaksanaan dan berakibat retaknya hubungan dalam keluarga.
Bagi saya, pemulihan tidak hanya dilakukan setelah kita sakit atau selepas kita
menghadapi masalah besar. Pemulihan harus dilakukan sebelum kita jatuh sakit
dan sebelum masalah menjadi semakin runyam. Pemulihan hendaknya konsisten
dilakukan dan dimaknai secara holistik.
(Sdri. Tirza
Rossalina Christanti)