MARI PULIH

  •  Tirza Rossalina Christanti
  •  

Renungan Minggu
27 Oktober 2024
MARI PULIH


Belakangan ini khalayak ramai sedang menggemari olahraga lari. Event marathon mendadak banyak diselenggarakan oleh berbagai institusi. Bahkan tak jarang orang-orang pergi ke luar negeri untuk mengikuti event marathon bereputasi. Saya mengenal sepasang suami istri yang meluangkan waktu pergi ke Jerman bulan ini untuk mengikuti Berlin Marathon – kalau tidak salah tahun ini tepat peringatan akbar ke-50 event ini. Mereka sudah rutin melatih fisik sejak 6 bulan sebagai langkah persiapan mengikuti race di Berlin Marathon, menargetkan full marathon – 42 km dalam durasi waktu yang ditentukan. Di saat yang hampir bersamaan, di Jakarta juga terselenggara event Jakarta Running Festival (JRF).

                Saya sendiri tidak gemar lari, tetapi banyak mendengar cerita dari teman-teman saya yang selalu gembira jika mencapai target-targetnya. Saya juga banyak melihat latihan-latihan yang harus dilakukan supaya bisa menyelesaikan race dengan sukses. Singkat cerita, teman saya yang sehari-hari tinggal di iklim panas Indonesia ini berhasil dengan gemilang menyelesaikan 42 km Berlin Marathon dalam kondisi suhu udara yang jauh dibawah kebiasaan badan khatulistiwa ini. Beberapa hari kemudian, muncul berita terkait JRF yang membuat saya terkejut. Nampaknya event JRF hampir memakan korban. Panas dan lembabnya suhu Jakarta membuat orang lokal sendiri kesulitan untuk menyelesaikan ‘perlombaan’ ini. Ada seseorang yang dikabarkan sempat kritis karena memaksakan diri berlari dalam kondisi detak jantung tinggi dan berlari di tengah kelembapan udara yang tinggi. Nampaknya beliau tersebut juga bukan amatir.

                Saya yakin semua olahraga menekankan pentingnya mengelola limit fisik dan pemulihan selama dan pasca latihan. Seberapapun ahli seorang olahragawan, semua menekankan pemulihan atau cooling down atau recovery. Memaksakan tubuh untuk terus bergerak dalam kondisi jantung sudah terlalu lelah bisa berakibat fatal. Tetapi seringkali, melambat dalam ‘perlombaan lari’ merupakan hal yang sangat sulit dilakukan, terutama jika kita merasa kita mampu dan sudah pernah melewati situasi yang mirip sebelumnya. Misalnya, saya sudah sering menaklukan 42 km di marathon-marathon sebelumnya, jadi kenapa saya harus berhenti di tengah jalan sekarang? Bukankah memalukan? Apalagi performa buruk ini akan tercatat di media sosial yang bisa dibaca komunitas saya. Apalagi tinggal beberapa kilometer menuju garis finish. Dan apalagi apalagi lain yang sebetulnya merupakan wujud ego.

                Kehidupan kita sering dianalogikan dengan marathon. Di satu sisi kita dididik untuk mendorong diri melewati rintangan dalam kondisi badan yang mungkin sudah remuk redam. Namun disisi lain, kita harus tahu kapan harus melambat. Melambat di saat yang salah bisa berdampak negatif bagi pertumbuhan diri. Tidak melambat ketika harus melambat juga bisa berakibat fatal.

Dalam konteks kehidupan berkeluarga, pemulihan merupakan bentuk pengelolaan ego. Dalam situasi-situasi kritis dimana keluarga menghadapi sebuah ujian, berhenti sejenak untuk bersama-sama memulihkan kondisi menjadi momen yang sangat amat penting. Memaksakan diri untuk terus ‘berlari’ dalam keadaan psikis keluarga yang tidak stabil dapat menjadi penyebab ledakan emosi yang fatal. Keputusan-keputusan yang diambil ketika tensi tinggi biasanya tidak didasari dengan kebijaksanaan dan berakibat retaknya hubungan dalam keluarga. Bagi saya, pemulihan tidak hanya dilakukan setelah kita sakit atau selepas kita menghadapi masalah besar. Pemulihan harus dilakukan sebelum kita jatuh sakit dan sebelum masalah menjadi semakin runyam. Pemulihan hendaknya konsisten dilakukan dan dimaknai secara holistik.

(Sdri. Tirza Rossalina Christanti)



Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.