LEBIH DARI SEKEDAR RITUAL

  •  Maria Sampyuh
  •  

RENUNGAN HARIAN GKI COYUDAN

SENIN, 2 MARET 2026


LEBIH DARI SEKEDAR RITUAL

YESAYA 58:5-11


"Beginikah puasa yang Kukehendaki: hari untuk orang merendahkan diri, dengan menundukkan kepala seperti gelagah, membentangkan kain karung dan abu sebagai alas tidur? Itukah yang kausebut puasa, hari yang disukai Tuhan? 

Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu- belenggu kelaliman dan melepaskan tali- tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya, dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah- mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudara sendiri! " ( ayat 5-7 ) 


Banyak orang merasa hidupnya sudah benar dan saleh karena sudah melakukan ritual- ritual agamanya dengan baik. 

Namun, jika kita membaca dalam Kitab Yesaya 58 ini, maka kita menemukan bahwa Allah meminta kepada umatNya untuk bukan hanya sekedar  menjalankan ritual saja, tetapi lebih dari sekedar ritual. Bacaan ini membahas tentang kesalehan yang sejati, dan secara spesifik berbicara tentang puasa. Banyak orang merasa sudah mentaati perintah, karena secara ritual sudah menjalani puasa. Tetapi dalam bacaan ini mengingatkan, bagaimana puasa yang benar itu. Puasa yang benar bukan hanya menjalani secara ritual tidak makan dan tidak  minum, namun lebih dari itu, yakni manusia diminta untuk memiliki kepekaan, empati dan kepedulian terhadap sesama. Puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus, tetapi bagaimana memandang dan bertindak bagi sesama yang setiap hari terpaksa puasa karena tidak memiliki makanan, terpaksa puasa karena keadaan. Apakah hati tetap beku saat melihat sesama yang setiap hari harus kedinginan karena tidak berpakaian, karena tidak ada tempat untuk bernaung dan berlindung? Sementara menjalani ritual ibadah puasa, namun tetap menikmati penderitaan orang lain, cukup tahu atas  ketidakadilan yang  terjadi dimana-dimana, bahkan bisa menjadi bagian dari orang- orang yang melakukan penindasan. 

Firman Tuhan mengingatkan supaya ketika menjalani ritual ibadah puasa, maka bertindaklah bagi sesama yang berada dalam penderitaan, tekanan, kelaparan, kedinginan, jangan hanya sekedar tahu, jangan pula menikmati dan masa bodoh atas penderitaan sesama. 

Puasa yang dilakukan bukan menjadi ajang pamer kesalehan, namun mewujudkan hidup yang berdampak bagi sesama. 

Tuhan Yesus kiranya menolong kita ????????


Pokok Doa: 

1.Perdamaian dunia

2.Panitia Paska 

3.Sesama yang sedang memikul beban dan dalam perjuangan


Maria S

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.