KRISTUS JALAN MENUJU RUMAH SEJATI

  •  Dani Atmiyati
  •  

Renungan warta 3 Mei 2026

"Kristus Jalan Menuju Rumah Sejati".

Kisah Para Rasul 7:55-60

Ada seorang menginap di sebuah hotel yang sangat mewah saat sedang melakukan perjalanan jauh. Karena terpesona dengan kemewahannya, ia mulai sibuk mengecat ulang dinding kamarnya, mengganti furniturnya dengan jati terbaik, dan memasang dekorasi permanen yang mahal. Ia menghabiskan seluruh uang dan energi untuk mempercantik kamar itu, sampai lupa bahwa besok pagi ia harus check-out.

Dunia ini adalah hotel tersebut. Seringkali kita lupa bahwa kita hanyalah tamu yang sedang mampir. Kita memperlakukan "tempat singgah" ini seolah-olah ini adalah "rumah tinggal". Kita membangun istana di tanah sewaan, sementara rumah masa depan kita yang abadi justru terbengkalai tanpa persiapan. Kekayaan dan jabatan hanyalah "fasilitas kamar" yang kita gunakan untuk kenyamanan perjalanan, tapi bukan menjadi tujuan akhir hidup kita.

Bacaan Kisah Para Rasul 7:55-60, mengajarkan bahwa hidup kita di dunia ini adalah sementara saja, kita sedang mempersiapkan "bahan bangunan" untuk rumah kita di Surga yang sudah disediakan oleh Tuhan Yesus bagi kita. Ketika kita dapat memahami hal ini, maka cara hidup dan sistem nilai kita akan berubah total. Seperti Stefanus, dia berani untuk mempersaksikan Kristus dan mengambil risiko untuk mengorbankan nyawanya. Ia memiliki keteguhan iman yang melampaui penderitaan duniawi. Ia tidak melihat kematian sebagai akhir yang tragis, melainkan sebuah transisi. Ia menyerahkan nyawanya kepada Yesus (ayat 59), membuktikan bahwa "rumah asli" yang ia tuju adalah bersama Tuhan, bukan di dunia ini.

Keselamatan yang telah diberikan Tuhan bagi kita melalui kematian Yesus di kayu salib bukanlah titik akhir perjalanan iman kita, namun justru di situlah perjalanan kita menuju "rumah" dimulai. Hidup yang dikembalikan kembali pada tujuannya yaitu memuliakan nama Tuhan, menjadi saksi-Nya bagi dunia.

Sebagai orang percaya, seharusnya kita sadar bahwa kita sedang dalam perjalanan, seharusnya kita tidak membawa barang berlebihan yang memberatkan langkah kita, melainkan hanya membawa bekal yang cukup untuk sampai ke tujuan akhir dengan selamat, percaya dan menyerahkan hidup kepada  Kristus jalan menuju rumah sejati.

(Ibu Dani Atmiyati)

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.