KONSEKUENSI
Matius 10:34-38
34) "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. (35) Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, (36) dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. (37) Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. (38) Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
Kita mungkin akan tercengang dengan apa yang Yesus sabdakan. “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang” Apa maksud-Nya? Bukankah Yesus adalah Raja Damai?
Tunggu dulu, kita harus memeriksa dan mendalami konteks pembicaraan Yesus ini. Jika kita amati dalam Matius 10, rupaya Yesus sedang memberikan peringatan konsekuensi untuk mengikut Dia pada murid-murid yang dipanggil. Mulai dari siap ditolak orang ( ay 5-15), diancam lembaga agama ( ay 16-33), dan pada ayat yang kita baca yaitu konsekuensi ditolak oleh keluarga sendiri.
Ya Betul, para murid diberikan peringatan bahwa konsekuensi mengikut Yesus pada masa itu bukanlah hal yang populer, sebab Yesus masih dianggap sebagai “orang aneh” yang mengganggu sistem keagamaan Yahudi.
Tapi di sini kita bisa tahu bahwa selalu ada konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil. Kuncinya adalah jika kita yakin pada pilihan kita, maka siap menghadapi konsekuensi itu.
Yesus ingin para murid yakin pada pilihan untuk menerima panggilan menjadi murid-Nya. Tidak setengah hati, melainkan sepenuh hati. Itu diwujudkan dengan siap “memikul salib” menghadapi konsekuensi penolakan dan jalan yang sulit dan tidak populer.
Meski begitu, kita tidak memikul salib itu sendiri, melainkan memikul dari bahu ke bahu bersama Yesus. Langkah kita dan langkah Yesus beriringan berjalan pada jalan yang sunyi itu. Hingga kelak segala yang kita jalani berujung kemuliaan.
Doa Pribadi:
“Kami mau mengikuti Engkau ya Tuhan dengan sepenuh hati dan siap menghadapi konsekuensinya”
Pdt. Daniel K. Gunawan