KESETIAAN DALAM KELUARGA
RENUNGAN HARIAN
BULAN KELUARGA
GKI COYUDAN SOLO
Sabtu, 5 Oktober 2024
KESETIAAN DALAM KELUARGA
Lukas 16: 10-13
Kesetiaan dan ketaatan menjadi kata kunci dalam kehidupan anak-anak Tuhan. Seseorang mendapat promosi atau kepercayaan untuk menduduki jabatan dalam sebuah perusahaan atau organisasi, biasanya karena ia telah menunjukkan kesetiaan dan ketaatannya kepada perusahaan atau organisasinya.
Jika dalam dunia fana ini, kesetiaan dan ketaatan mendapatkan tempat yang baik. Maka dalam hal kerohanian pun kesetiaan dan ketaatan dalam melaksanakan firman Tuhan merupakan sifat yang harus dimiliki oleh orang-orang percaya. Tuhan Yesus sendiri mengatakan, “Siapa yang setia dalam hal kecil, setia juga dalam hal besar. Siapa yang tidak benar dalam hal kecil, tidak benar juga dalam hal besar.” (ay.10)
Kesetiaan dimulai dari melakukan hal-hal yang kecil. Jika kesetiaan sudah menjadi gaya hidup, maka dia akan tumbuh menjadi orang yang setia dalam perkara-perkara yang lebih besar. Kalau tidak setia dalam perkara yang kecil, “Hal kecil saja dia tidak setia, apalagi bila diberi tanggung jawab yang besar?”
Hal yang paling menggoda terhadap kesetiaan dan ketaatan adalah masalah harta. Kehidupan keluarga sering menghadapi pencobaan terkait harta, baik uang atau kekayaan lainnya. Pada saat keluarga baru terbentuk, anggota keluarga mempunyai penghasilan mencukupi untuk keluarganya. Relasi dengan Tuhan juga berjalan dengan baik, setia dan taat dalam beribadah, berusaha menjadi teladan di dalam kehidupannya.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan karir dalam pekerjaan yang semakin baik, penghasilan pun meningkat. Berkat Tuhan melalui gaji atau penghasilan tidak lagi “pas-pasan” tetapi sudah lebih bahkan berlimpah. Dalam kondisi seperti ini, terkadang godaan mulai datang. Selera belanja dan kebutuhan semakin meningkat, keinginan juga meningkat, mobilnya harus yang lebih baik, barang-barang yang dipaki juga bermerek (branded) yang tentu harganya tidaklah murah.
Apabila keluarga sudah terjebak dalam kondisi seperti itu, dan pada akhirnya hidupnya hanya mengejar harta (Mamon), maka keluarga tersebut berada dalam persimpangan yang membahayakan jika tidak segera menyadari keadaannya. Dia harus membuat pilihan, yaitu setia kepada Mamon atau setia kepada Tuhan?
Jika setia kepada Tuhan, maka dia tidak boleh mencintai uang atau harta melebihi cintanya kepada Tuhan. Karena harus disadari bahwa semua berkat itu berasal dari Tuhan dan harus dipergunakan untuk kemuliaan nama Tuhan. Sehingga jika berkat yang diperoleh berlebih, berarti Tuhan menghendaki keluarga itu untuk menjadi berkat bagi sesama dan gereja Tuhan. Semuanya harus dikembalikan untuk kemuliaan nama Tuhan.
Tuhan Yesus mengingatkan, ”Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Sebab, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (ay.13)
Oleh karena itu, sebagai keluarga yang diberkati Tuhan, kita harus terus menunjukkan kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan dengan memprioritaskan hidup yang sesuai dengan firman Tuhan dalam seluruh aktifitas kita, baik di dalam keluarga, pekerjaan, maupun lingkungan kita. Jangan sampai kedamaian dan kebahagiaan yang ada di dalam keluarga kita hilang karena ketidaksetiaan kita kepada Tuhan. Kiranya Roh Kudus terus menolong keluarga kita sehingga menjadi gereja mini yang terus bersaksi tentang cinta kasih Tuhan yang memberikan pengharapan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Amin.
Pokok Doa
1. Persiapan Ibadah Minggu.
2. Pelaksanaan Bulan Keluarga.
3. Yang sedang sakit diberikan kekuatan dan pemulihan.
Sujud Swastoko