KEMUNAFIKANN

  •  Sujud Swastoko
  •  


Matius 23:25-28

”Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang indah tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan segala kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampak benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kelaliman.” (ay.27-28 TB2)

Kita tidak boleh mudah percaya dengan penampilan luar seseorang. Ada orang yang kelihatannya begitu baik, tutur katanya begitu sopan, orangnya terlihat lemah lembut, tetapi ternyata dia seorang buronan karena kejahatan yang dilakukannya. Apa yang kelihatan baik di luar, belum tentu dalam hatinya baik.

Firman Tuhan hari ini menceritakan bagaimana Tuhan Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka terlihat pandai dan sangat menguasai isi hukum Taurat serta melaksanakan hukum tersebut, tetapi semua itu dilakukan hanya tampak luarnya saja. Mereka merupakan orang-orang munafik yang terlihat seperti orang yang tulus dan suci, tetapi di dalam batinnya penuh dengan kebusukan dan ketamakan.

Tuhan Yesus menyebut orang munafik itu seperti kuburan yang dilabur putih. Dari luar terlihat bersih dan indah, tetapi di dalamnya banyak kotoran dan tulang belulang. Di luar tampak benar di mata orang lain, tetapi di dalamnya penuh dengan kemunafikan dan kelaliman. Tuhan Yesus juga menggambarkan cara hidup mereka yang hanya memperhatikan bentuk luar, seperti membersihkan cawan dan pinggan hanya bagian luarnya saja, tetapi bagian dalamnya penuh dengan rampasan dan kerakusan.

Kecaman Tuhan Yesus terhadap para ahli Taurat dan orang-orang Farisi tersebut juga menjadi pelajaran bagi kita, orang-orang percaya, agar kita hidup dalam kebenaran, yaitu samanya hati dan perbuatan. Apa yang tampak luar, merupakan cerminan dari hati kita. Apa yang ada dalam hati/batin kita, itu yang akan terpancar dalam kehidupan kita. Orang menyebutnya ’nyawiji ning ati, lathi lan pakarti’ atau menyatunya hati, tutur kata dan perbuatan.

Apabila hati, perkataan, dan perbuatan tidak sama atau tidak menyatu, maka orang tersebut biasanya menyembunyikan niat yang tidak baik. Dia menjadi orang yang munafik karena perkataannya tidak sesuai dengan perbuatannya. Dia berusaha menutupi niat jahatnya dengan tampilan luar yang baik. Antara ucapan dan perbuatannya tidak sama alias munafik.

Sebagai orang Kristen yang mendapat karunia keselamatan dari Tuhan, maka kita tidak boleh lagi mencampurkan kehidupan terang dan gelap. Yesus Kristus adalah Terang, karena itu hidup kita juga harus ‘terang’, yaitu hidup jujur dan dalam kebenaran, bukan hidup dalam kemunafikan.

Oleh karena itu marilah dengan pimpinan Roh Kudus, kita menjalani kehidupan ini dengan tulus untuk memuliakan nama Tuhan, melalui sikap hidup yang jujur dan hidup dalam kasih. Tuhan memberkati kita semua. Amin

 Pokok Doa
1. Persiapan Ibadah Minggu
2. Jemaat yang sakit dan dalam proses pemulihan.
3. Bangsa dan negara Indonesia diberikan kerukunan, keadilan, dan kedamaian.
 
Sujud Swastoko

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.