KEMARAHAN CINTA TUHAN

  •  Tirza Rossalina Christanti
  •  

Ketika masih kanak-kanak, kita sering mendengar nasihat demikian: orang tua marah bukan karena mereka membenci kita, melainkan karena mereka sayang kita. Orang tua kita merasa sedih ketika kita melakukan suatu hal yang melanggar norma-norma etis maupun aturan yang ada di suatu tempat, dan kesedihan itu terwujud dalam ekspresi kemarahan. Merefleksikan hal ini, saya sebagai seorang pendidik juga mengalami dilema ini setiap hari. Kemarahan demi kemarahan saya ungkapkan kepada mahasiswa yang melakukan tindakan yang kurang baik. Kesedihan dan rasa penyesalan akan datang setiap kali saya selesai melontarkan kemarahan saya.

Lalu, Apakah marah itu buruk? Apakah kita harus menjadi pribadi yang selalu sabar dan bisa mengelola emosi – mengungkapkan kesedihan, kekecewaaan, dan kekagetan kita dengan kata-kata yang bijaksana?

Tuhan Yesus marah di Bait Allah. Apakah kemudian Tuhan Yesus melakukan hal yang tercela dengan membiarkan marahnya meledak? Kita tentu sudah tahu alasan mengapa Tuhan Yesus marah. Lalu apakah tindakan marah yang beralasan itu buruk? Tentu tidak. Tentu tergantung konteks. Kita – manusia – dikarunia berbagai macam emosi, salah satunya marah. Kemarahan merupakan suatu respon ketika kita menghadapi kenyataan yang kompleks. Mengecewakan, menyedihkan, membingungkan. Seperti bayi yang hanya bisa mengungkapkan perasaannya lewat tangis, sangat wajar bagi manusia untuk marah.

Seringnya, kita dipaksa dan dinasihati oleh lingkungan agar jangan pernah mengungkapkan rasa marah. Tetapi jarang sekali kita dinasihati untuk mengelola dan memroses keadaan yang mengecewakan. Mengelola tidak hanya perasaan, tetapi juga diseimbangkan dengan nalar kita ketika berhadapan dengan banyak hal yang tidak mengenakkan. Tentu hal ini sangat sulit. Menjaga relasi kita dengan Tuhan akan membantu kita dalam berlatih merespon banyak hal. Sehingga, ketika suatu keadaan membuat kita marah, kita tahu apa alasan kita marah, dan yang lebih penting bagaimana respon dan tindakan kita setelah kita marah. Apa yang akan kita lakukan kepada orang yang membuat kita marah? Bagaimana sikap kita dalam merespon keadaan yang membuat kita marah? Bagaimana tanggaung jawab serta tindak lanjut kita setelah kita marah? Jika kita melanjutkan kemarahan kita dengan dendam dan dengki – tentu ini menjadi hal yang tidak baik. Jika kita melanjutkan kemarahan kita dengan tindakan yang reflektif, berusaha memperbaiki situasi, memroses kondisi dengan pikiran yang lebih jernih – tentu ini menjadi sebuah proses pendewasaan kita untuk menjadi lebih bijaksana.

(Sdr. Tirza Rossalina Christanti)

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.