KELUARGA YANG LAYAK DIPERJUANGKAN
RENUNGAN HARIAN
BULAN KELUARGA
GKI COYUDAN SOLO
Minggu, 6 Oktober 2024
KELUARGA YANG LAYAK DIPERJUANGKAN
”Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kejadian 2:23)
Bulan Oktober ini kita memasuki Bulan Keluarga 2024 dengan tema “Kasih Allah Membuat Keluarga Layak Diperjuangkan.” Tema ini sungguh menarik dan sangat relevan bagi kehidupan kita dalam membangun keluarga Kristen di tengah terpaan persoalan yang menghadang, yang bisa mengancam perpecahan dalam keluarga. Harus disadari bahwa pernikahan merupakan salah satu mandat dari Allah agar manusia beranak cucu dan melaksanakan misi Allah yang semuanya menjadikan manusia bisa hidup bahagia.
Pernikahan pertama terjadi saat Allah mempersatukan Adam dan Hawa di Taman Eden. Dua pribadi disatukan dalam ikatan yang indah tanpa noda dan dosa. Mereka memiliki mandat dari Allah untuk menggenapi rencana Allah, yaitu beranak cucu dan memenuhi bumi, serta mengusahakan dan memelihara taman di bumi ini yang telah diciptakan Allah dengan baik (Kejadian 2:15). Namun setelah manusia jatuh dalam dosa, pernikahan menjadi penyatuan dua pribadi yang sama-sama tercemar dengan dosa. Oleh karena itu pernikahan yang tidak dilandasi oleh terang firman Tuhan, akan mudah goyah saat menghadapi berbagai persoalan di dunia ini.
Pada saat peneguhan dan pemberkatan nikah, calon pasangan suami istri berjanji untuk setia dan taat kepada pasangannya, serta bersedia untuk melaksanakan komitmen sebagai pasangan suami istri yang telah dipersatukan Tuhan hingga kematian memisahkan mereka. Tetapi pada saat salah satu pasangan tidak lagi mematuhi janjinya untuk setia pada pasangannya, mulailah terjadi keretakan yang berimbas pada keutuhan keluarga yang dibangunnya. Tentu saja keretakan tersebut tidak boleh dibiarkan. Keretakan harus segera direkatkan kembali dengan pertolongan Tuhan dan dengan kesadaran diri mengakui kesalahannya dan bersedia untuk saling berkurban bagi pasangannya.
Keluarga merupakan gereja mini yang seharusnya kehidupan di dalamnya damai, rukun, bahagia, dan bisa menjadi berkat bagi lingkungan sekitarnya. Hal itu bisa terjadi jika keluarga menempatkan Allah sebagai pusat kehidupannya. Harus diakui bahwa begitu banyak tantangan dan persoalan yang dihadapi sebuah keluarga. Mulai dari masalah internal seperti persoalan keuangan, perselisihan antara pasangan suami istri, KDRT, hingga masalah eksternal yang melibatkan pihak luar, seperti perselingkuhan dan relasi sosial yang buruk sehingga membuat retak kehidupan keluarga. Namun dengan menyadari bahwa Allah lah yang telah mempersatukan mereka dan Allah mempunyai rencana yang sungguh amat baik bagi setiap keluarga, maka setiap keluarga harus berjuang agar keluarga mereka tetap hangat dengan cinta kasih yang dari Allah. Amin.
(Pnt.Sujud Swastoko)