KEANGKUHAN ADALAH BIBIT RATAPAN

  •  Reggy Leo
  •  

Renungan Harian GKI Coyudan

Rabu, 25 Juni 2025 


KEANGKUHAN ADALAH BIBIT RATAPAN


 Yehezkiel 32:3

> Beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku memasang jaringku menangkap engkau dengan sekumpulan bangsa-bangsa yang banyak, dan mengangkat engkau di dalam pukat-Ku. Kuhempaskan engkau ke tanah, Kulemparkan engkau ke padang. Dan ke atasmu Kusuruh hinggap segala burung di udara, dengan dagingmu Kukenyangkan binatang-binatang seluruh bumi.


Niccolò Machiavelli, dalam bukunya Il Principe (Sang Penguasa), menulis bahwa seorang pemimpin yang hebat tidak harus dicintai, tapi harus ditakuti. Menurutnya, kekuasaan harus dijaga dengan ketegasan, manipulasi, dan terkadang kejam demi stabilitas. Bagi Machiavelli, penguasa yang lemah akan kehilangan kendali, sedangkan yang kuat dan “tanpa belas kasihan” akan bertahan lama .Pemikiran ini banyak mempengaruhi dunia politik dan kepemimpinan hingga hari ini. Namun, Alkitab menunjukkan sesuatu yang sangat berbeda: penguasa yang sombong dan memuliakan dirinya sendiri pada akhirnya akan diturunkan oleh Allah. Itulah yang kita lihat dalam nubuatan keras yang disampaikan Yehezkiel terhadap Firaun, raja Mesir.


Yehezkiel 32 adalah nyanyian ratapan bagi Firaun, yang diibaratkan seperti singa muda yang haus kuasa dan buaya besar yang mengacaukan air dengan ekornya, simbol kekacauan dan kekuasaan yang merusak.Tuhan menyatakan bahwa Ia sendiri akan menjaring Firaun dengan jala bangsa-bangsa, menggambarkan penghakiman yang pasti datang. Seluruh langit akan gelap adalah sebuah gambaran di masa depan yang menunjukkan kejatuhan simbolik seorang raja besar yang dahulu merasa seperti dewa. Tuhan menyatakan bahwa Mesir akan menjadi contoh bagi bangsa-bangsa lain, bahwa keangkuhan dan kekuasaan yang tanpa takut akan Tuhan pasti dihancurkan.


Seperti Firaun, kita bisa dengan mudah tergoda untuk merasa kuat, merasa lebih baik, atau tidak butuh Tuhan. Keberhasilan, kekuasaan, atau pencapaian bisa membuat kita lupa diri, lalu menjadikan diri pusat segalanya. Dalam seluruh Alkitab, Tuhan tidak pernah kompromi dengan kesombongan. “Tuhan menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yakobus 4:6). Keangkuhan bukan hanya kesalahan moral, tapi bibit kejatuhan. Saat seseorang terlalu mengandalkan kekuatan sendiri dan tidak mau tunduk pada Tuhan, maka ratapan tinggal menunggu waktu


Hari ini, renungan dari Yehezkiel 32 mengajak kita untuk mengoreksi hati: Apakah ada benih keangkuhan dalam cara kita memimpin, bekerja, berbicara, atau memandang orang lain? Apakah kita terbuka dengan teguran dari orang lain dan tidak merasa diri kita selalu benar? Tuhan tidak mencari orang yang ditakuti manusia, tapi orang yang takut akan Dia. Lebih baik kita merendahkan diri sekarang, daripada ditundukkan oleh tangan Tuhan nanti. Karena keangkuhan memang tampak kuat tapi pada akhirnya, ia membawa kita kepada ratapan.


Kiranya Tuhan menolong kita semua


Pokok Doa:

1. Berdoa untuk Digital Ministry GKI Coyudan agar dapat memperlengkapi setiap anggota jemaat dari segi spiritualitas maupun pengajaran

2. Berdoa untuk kestabilan ekonomi dan politik dunia

3. Berdoa untuk pergumulan anggota jemaat yang sedang sakit dan mengalami kesulitan


Reggy Leo

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.