KASIH YANG MERANGKUL PERBEDAAN

  •  Edhi Setiawan
  •  

Bacaan: Lukas 15: 11-30

Tanpa sadar kita terbiasa hidup di dalam dunia yang dikotak-kotakkan dalam kelompok “kami” dan kelompok “mereka”. Akibatnya, sekat perbedaan menjadi semakin tebal yang melahirkan stigma hitam – putih yang ketika dinilai dalam ukuran baik – buruk, benar – salah, menimbulkan rasa suka – tidak tidak suka, bahkan rasa cinta - benci. Tidak heran, dalam menanggapi suatu peristiwa kita sering menemukan diskusi panas di media sosial yang ujungnya saling menghujat satu dengan yang lain karena berbeda, baik itu bicara soal dukungan politik, sampai ke urusan dengan tetangga.

Bacaan Injil hari ini kembali mengajak kita merenungkan perumpamaan tentang anak yang hilang. Pada umumnya kita mencermati bahwa ada seorang ayah, memiliki 2 orang anak. Yang bungsu meminta harta warisan lalu pergi dan berfoya-foya. Setelah jatuh miskin, dia menyesali dosa dan perbuatannya, kemudian memutuskan untuk pulang dengan maksud menjadi pekerja di rumah ayahnya. Sambutan sang ayah di luar dugaan, dia berlari menemui anak yang kembali itu, bahkan menyambutnya dengan pesta. Sementara si sulung, merasa diperlakukan tidak adil karena sudah menjadi anak yang berbakti, namun tidak pernah diperlakukan seperti si bungsu itu.

Barangkali kalau perumpamaan ini terjadi di dunia nyata, orang akan merasa cukup adil jika si sulung itu marah. Kalau kisah ini diviralkan di medsos, biasanya si bungsu itulah yang dihujat. Namun dalam perspektif sang ayah, dengan kasih ia menyambut anak yang mati tetapi telah hidup, yang hilang namun telah kembali. Dengan kasih yang sama sang ayah menikmati kebersamaan dengan si sulung; kata sang ayah, “Segala kepunyaanku, adalah kepunyaanmu”. Di sini kita menemukan kekuatan kasih, yang memanusiakan manusia.

Ada pernyataan yang sering kita dengar, “Allah membenci dosa, namun mengasihi manusia.” Tangan kasih-Nya merengkuh mereka yang datang kepada-Nya. Dalam perspektif yang sama marilah kita memandang semua orang sebagai sesama, sebagai pribadi yang patut dikasihi, bukan dibedakan atas atribut, label, maupun masa lalunya. Kita mau seperti Yesus, yang kasih-Nya melampaui perbedaan.

(Pnt. Edhi Setiawan

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.