IMAN YANG TAK SEMPURNA

  •  Bobby Widya Ardianto
  •  

RENUNGAN WARTA

GKI COYUDAN SOLO

Minggu, 2 Februari 2025


IMAN YANG TAK SEMPURNA


MAZMUR 71

Iman selalu membawa kita memasuki ruang misteri Allah yang tak kita ketahui ujung maupun hasilnya. Iman bukan menunjukkan keberhasilan manusia yang di luar nalar, namun menunjukkan betapa hebatnya Allah yang mampu menguatkan dan meneguhkan manusia melewati berbagai ujian kehidupan. Bahkan, iman tak melulu berbicara soal hasil yang dapat dilihat saat ini, namun hasil yang baru dapat dirasakan puluhan tahun kemudian. Bukan kita yang melihat dan merasakan, tetapi justru orang lain. Iman bukan dibentuk dalam sekejap mata. Ia membutuhkan tempaan, ujian, dan pendewasaan seumur hidup. Iman bertumbuh saat kita pertama kali percaya kepada Yesus Kristus hingga akhir hayat.

Daud di dalam Mazmur 71 memuji kesetiaan Allah yang tetap teguh bagaikan gunung batu yang kokoh. Di sepanjang usianya, Daud mengalami bertubi-tubi goncangan, bahkan kejatuhannya dalam dosa perzinahan menjadi kisah hidup yang dicatat dengan seksama dalam Alkitab. Daud telah menjadi contoh seorang manusia yang memiliki iman yang tak sempurna. Di dalam kegagalan-kegagalan itulah, kita malahan melihat satu pribadi yang konsisten menopang dan tak pernah gagal mencintai manusia, setia memupuk benih iman kita hari demi hari, Allah Sang Pencipta. Ia lah tokoh utama dibalik keterbatasan manusia untuk beriman dan tetap percaya kepada-Nya di tengah segala jatuh bangun yang harus dilalui.

Selain Daud, Tuhan Yesus menjadi contoh yang sempurna. Ya, Ia sempurna dalam segala hal karena Ia adalah Allah yang sejati. Tetapi Yesus juga adalah manusia sebenar-benarnya. Ia hendak mengajarkan kepada kita apa artinya manusia yang hidup beriman kepada Sang Bapa setiap hari.

Yesus fokus menjalani panggilan hidup-Nya sesuai dengan agenda Allah Bapa. Tak jarang Ia justru menghindar dari orang banyak dan pergi ke tempat lain di mana itu bisa membiaskan rencana Allah atas diri-Nya (Matius 12: 15). Ia membangun relasi intim dengan Allah hari demi hari dan perlu mengetahui kehendak Bapa-Nya setiap waktu (Lukas 5: 16). Yesus menyerahkan diri-Nya kepada rencana Bapa untuk keselamatan dunia, bahkan Ia meniadakan keinginan-Nya sendiri (Lukas 22: 42).

Yesus mengajarkan kepada kita bahwa dengan cara-cara demikianlah, kita dapat menjalani hidup beriman kepada Sang Bapa. Belajar kembali dari Daud, karena tidak sempurna, mudah berbelok, bahkan mudah untuk jatuh, kita perlu tetap melekat pada Sang Sumber Hidup. Kita perlu memohon pertolongan-Nya setiap waktu agar kita tetap beriman kepada-Nya hingga akhir hidup. Dan ketika kita melakukannya dengan setia, kita sedang meninggalkan warisan iman yang kuat dan tak terbantahkan kepada anak-cucu kita, sebuah warisan yang paling bernilai dari segala harta di dunia. 



(Bobby Widya Ardianto)


Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.