HIDUPLAH TAKUT AKAN TUHAN
Maleakhi 4:1-6
Kitab Maleakhi pasal 4 adalah salah satu dari kitab yang dikutip oleh Tuhan Yesus ketika berbicara tentang Yohanes Pembaptis sebagai nabi Elia yang diutus menjelang datangnya hari Tuhan. Dan pada kitab ini kita menemukan bahwa bagi manusia hari kedatangan Tuhan itu memiliki 2 sisi :
1. Sisi yang mengerikan dan penghukuman
Di mana ke-mahakudus-an TUHAN Allah itu datang menghancurkan orang-orang gegabah dan orang-orang fasik dengan sekejap mata dan begitu mudahnya seperti jerami yang terbakar api. Orang-orang fasik hangus hingga ke akar-akarnya, tidak tersisa sedikitpun.
Ini berarti bahwa masa kesabaran Tuhan sudah sampai pada batasnya sehingga ke-mahakudus-an dan ke-mulia-an Allah terhadap manusia berdosa dan hina sudah tidak memungkinkan lagi. Hal itu terjadi secara otomatis, karena dosa yang ada pada orang-orang gegabah dan orang-orang fasik tidak dapat bertahan di hadapan Tuhan Allah yang mahakudus dan mulia.
2. Sisi yang meneduhkan dan dinantikan
Di mana bagi umat Allah yang tertebus, kedatangan TUHAN itu justru menjadi sukacita dan kerinduan akan kebenaran, kesembuhan dan pemulihan yang sejati di dalam Tuhan. Sukacita itu ditunjukkan dengan tindakan berjingkrak seperti anak lembu lepas kandang, sukacita yang tak tertahankan lagi.
Untuk itulah kita sebagai umat Tuhan tidak boleh gegabah dan atau hidup dalam ke-fasik-an. Jangan menganggap enteng kebenaran firman Tuhan yang kita dengar, bersegeralah melakukannya. Jauhkanlah diri kita dari niat, pikiran dan tindakan jahat kepada sesama, karena Tuhan tidak menyukai ke-fasik-an. Bersungguh-sungguhlah menghidupi apa yang kita imani dalam Yesus Kristus selagi ada waktu kesabaran Tuhan bagi kita untuk mengerjakan pertobatan kita setiap hari. Demikianlah kita Hidup Takut Akan Tuhan. Amin.
Pokok Doa :
1. Berdoa untuk persiapan perayaan Natal GKI Coyudan Solo 2023 (perencanaan, perlengkapan, petugas, pelayan firman, para penatua dan seluruh jemaat).
2. Berdoa untuk yang sakit dan dalam pemulihan (sebutkan nama-nama orang yang dibawa dalam doa pribadi).
Pdt. Lucas Adhitya Aryanto Sudarmadi