HIDUP TETAPI MATI
Renungan Harian GKI Coyudan Solo
Jum’at, 21 Maret 2025
Wahyu 3:1-6
HIDUP TETAPI MATI
Zombie ... banyak film-film thriler yang mengambil kisah tentang pergumulan kehidupan manusia melawan mayat hidup atau zombie. Secara fisik orang-orang yang mati itu masih hidup, tetapi tidak lagi dapat berpikir, merasa dan berprilaku sebagaimana manusia seharusnya. Zombie atau mayat hidup itu bergerak dan mencari mangsa dengan menggigitnya, dan setiap orang yang digigitnya akan terinfeksi virus dan berubah menjadi zombie juga. Ya, mereka hidup, tetapi sesungguhnya sudah mati.
Demikian halnya digambarkan kondisi jemaat di Sardis oleh kitab Wahyu, yaitu mereka dikatakan hidup, padahal mereka mati ! Maksudnya yaitu bahwa jemaat Sardis masih ada, memiliki tempat ibadah, ada anggota jemaatnya, ada kegiatan-kegiatannya, tetapi segala aktivitasnya sudah tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Seperti zombie yang tidak lagi dapat berpikir, bersikap dan bertindak selayaknya manusia seharusnya, demikian halnya jemaat Sardis tidak lagi berpikir, bersikap dan bertindak sebagai sebuah gereja Tuhan yang seharusnya !
Jemaat Sardis mengalami kesalahan antara lain :
1. Kehidupan rohani yang mati.
Karena kehidupan rohani mereka jatuh pada rutinitas kegiatan belaka tanpa ada relasi pribadi dengan Tuhan yang terjalin.
2. Tidak waspada dan lalai.
Terpengaruh oleh ajaran dunia dan membiarkannya berkembang dalam kehidupan jemaat.
3. Perbuatan yang tidak sempurna di hadapan Allah.
Sekalipun memiliki tindakan baik, tetapi tidak memiliki ketulusan dan kemurnian hati dalam melakukannya.
4. Tidak setia dalam mengingat dan mentaati firman.
Kebenaran firman Tuhan tidak dipegang teguh ataupun ditaati dalam kehidupan keseharian mereka.
Demikianlah kesalahan jemaat Sardis dapat menjadi pelajaran yang berharga untuk kita membangun relasi pribadi dengan Tuhan, mengasah kepekaan terhadap firman Tuhan sehingga tidak mudah diombang-ambingkan angin pengajaran yang ada disekitar kita, tetap tulus dan murni hati dalam melakukan segala sesuatu, dan setia serta taat pada kebenaran firman Tuhan. Amin.
Pokok Doa :
1. Untuk perkembangan pelayanan MiKaFe (Misi Kasih Kafe).
2. Untuk kesatuan dan persatuan bangsa dan negara Indonesia.
Pdt. Lucas Adhitya Aryanto Sudarmadi