HIDUP HANYA SEKALI?

  •  Sujud Swastoko
  •  




Markus 12:18-27

”Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.” (ay.27a)


Ada orang yang percaya bahwa hidup ini hanya sekali saja. Setelah mati, ya dia sudah tidak ada lagi. Jadi, kehidupan berakhir setelah manusia mati. Oleh karena itu, orang yang memiliki pandangan demikian akan berusaha untuk menikmati hidup sesuai dengan keinginannya. 

Mereka mengatakan, “Mumpung belum mati, jadi harus dinikmati sepuas-puasnya.” Cara menikmatinya bisa dengan hidup yang baik sehingga secara batin mereka mendapatkan kedamaian. Atau, mengisi kehidupan dengan menyalurkan hawa nafsu duniawi dengan berbuat semaunya yang penting dirinya senang. Toh, hidup hanya sekali.

Dalam kehidupan orang Yahudi, ada golongan orang yang tidak percaya akan kehidupan setelah kematian, yaitu Saduki. Saduki merupakan golongan pemimpin agama Yahudi, yang sebagian besar terdiri dari imam-imam. Mereka mendasarkan ajarannya pada kelima kitab Musa atau Taurat Musa. Namun, mereka tidak percaya kepada kebangkitan orang mati, tidak percaya adanya roh maupun malaikat.

Orang Saduki ini berusaha hidup menaati Taurat Musa secara lahiriah, dan menentang ajaran Tuhan Yesus tentang kebangkitan orang mati. Mereka tidak percaya ada kehidupan kekal, karena kalau ada, itu bertentangan dengan pola pikir mereka yang lahiriah, seperti tradisi Levirat yang berlaku pada saat itu.

Tradisi Levirat adalah tradisi dimana jika seorang janda belum memiliki keturunan, dia harus menikahi saudara laki-laki suaminya yang telah meninggal, sampai ia mendapatkan keturunan. Jadi, orang Saduki menanyakan kepada Tuhan Yesus: “bagaimana kalau sampai janda itu menikahi tujuh saudara laki-laki suaminya? Lalu di kehidupan selanjutnya, siapa yang menjadi suaminya?”

Pikiran duniawi tersebut membuat orang Saduki tidak bisa melihat dari sisi rohani. Tuhan Yesus dengan tegas menjelaskan bahwa kehidupan setelah kematian tidak lagi seperti kehidupan dunia yang kawin mengawinkan, melainkan hidup seperti malaikat. Artinya, kehidupan setelah kematian merupakan kehidupan persekutuan dengan Allah dan tidak ada lagi keinginan duniawi seperti saat manusia hidup di dunia.

Orang yang mati di dunia, maka yang mati adalah tubuhnya, sedangkan rohnya bersama dengan Allah. Pada saat kebangkitan orang mati, maka roh tersebut akan menerima kembali tubuhnya yang tidak akan bisa mati lagi, yaitu tubuh surgawi untuk hidup bersama Bapa dalam kemuliaan. Jadi, Allah bukanlah Allah orang mati, tetapi Allah orang hidup. Pada saatnya semua orang suci akan dibangkitkan dan hidup dalam kemuliaan Allah.

Bagi kita yang telah menerima keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus, kita percaya bahwa setelah kematian di dunia ini, akan ada kebangkitan orang mati. Oleh karena itu selama berada di dunia ini, kita harus membiasakan diri untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah dan orang-orang percaya, dan tidak menjauhkan diri dari persekutuan-persekutuan yang ada. 

Kita harus memiliki hidup dengan cara Kristus, yaitu hidup sesuai firman Tuhan, untuk mempersiapkan kita memasuki kehidupan kekal bersama dengan Tuhan Yesus dalam Kerajaan Allah yang kekal. 

Kiranya Tuhan menolong dan menyertai kita. Amin.


Pokok Doa

1. Lebaran di Solo Raya berjalan baik, berjalan aman dan damai.

2. Yang sedang berduka diberikan kekuatan dan penghiburan oleh Tuhan.

3. Yang sedang sakit diberikan kesembuhan dan kekuatan.


Sujud Swastoko

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.