HATI YANG BERBALIK KEPADA TUHAN
Renungan Warta, 2 Maret 2025
HATI YANG BERBALIK KEPADA TUHAN
2 Korintus 3 : 12 – 4 : 2
Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya (ay 16, TB)
Hati yang berbalik kepada Tuhan artinya hati yang fokus kepada Tuhan dan mendekat kepada-Nya, melakukan semua perintah-Nya serta senantiasa hidup intim dengan Tuhan. Orang perlu berbalik kepada Tuhan kalau dalam kehidupannya sulit merasakan kebaikan dan janji Tuhan, seperti ada selubung yang menghalanginya. Bagaikan seorang yang bagian wajahnya ditutupi oleh sehelai kain yang tebal sehingga menghalangi pandangan atau penglihatannya. Orang yang memiliki selubung di wajahnya seperti orang yang berjalan dalam kegelapan.
Paulus mengibaratkan bangsa Israel yang membaca kitab Musa tetapi ada selubung yang menutupi hati mereka. Pikiran orang-orang yang hidup di bawah tata peraturan hukum Taurat telah tumpul atau dibutakan. Bagaikan selubung yang menutupi wajah Musa saat ia turun dari Gunung Sinai dengan wajah yang memancarkan sinar kemuliaan Allah. Selubung itu mengakibatkan mereka tidak bisa memahami maksud perjanjian Allah. Walau demikian, Rasul Paulus memberi tahu kita bahwa jika terang kemuliaan Kristus bersinar atas diri seseorang, barulah ia memiliki pengertian akan pernyataan Tuhan. Itu bisa terjadi ketika orang berbalik pada Tuhan dan menyambut anugerah Kristus. Pada saat itulah Tuhan menyingkapkan selubung dari hatinya sehingga penglihatan rohaninya tidak terhalang lagi.
Ketika siapa pun berpaling kepada Allah, maka selubung ketidaktahuan itu akan diambil, dan pikiran yang buta serta hati yang keras akan disembuhkan. Maka pada saat itu orang akan memahami bahwa anugerah Tuhan Yesus memenuhi tuntutan hukum Taurat (Rm. 10:4), dan di situlah terletak makna kemerdekaan (17). Kemerdekaan yang bukan hanya meliputi selubung yang tersingkap; tetapi juga kemerdekaan dari dosa, maut dan tuntutan hukum Taurat, kemerdekaan untuk menghampiri Allah, dan kemerdekaan untuk berkata-kata dalam doa. Hati dimerdekakan dan dilapangkan agar dapat berjalan dalam perintah-perintah Allah. Pada saat dimerdekakan, orang akan memancarkan kemuliaan Tuhan (18). Bukan hanya di wajah, tetapi dalam hidup dan terpancar melalui karakter. Kemuliaan ini tidak akan memudar tetapi akan terus mengalami perubahan hidup hingga makin lama makin menyerupai Kristus. Keserupaan dengan Kristus ini bukan hasil pencapaian manusia tetapi merupakan pertumbuhan yang dihasilkan oleh karya dan kuasa Roh Kudus.
Kita sadar bahwa proses perubahan hidup menuju keserupaan dengan Kristus tidaklah selalu lancar dan mudah, karena merupakan arena peperangan melawan dosa dan si jahat. Karena itu dalam proses pertumbuhan meninggalkan dosa dan makin maju ke arah Kristus ini, kita perlu dua hal bersamaan yaitu bergantung pada kuasa Roh Kudus dan menyerahkan diri pada proses pemurnian-Nya.
(Pnt. Kardiana Jumaini)