HAI TULANG YANG KERING!
Yehezkiel 37:4-6
Bayangkan seorang pelaut yang tersesat di lautan luas tanpa kompas atau peta. Meskipun awalnya dia merasa putus asa, dia terus berpegang pada keyakinan bahwa suatu hari nanti dia akan menemukan jalan pulang. Ketika akhirnya dia melihat cahaya redup di cakrawala yang menandakan keberadaan pantai, hatinya dipenuhi harapan bahwa dia akan selamat. Begitu pula, harapan adalah cahaya redup di tengah kegelapan yang mengarahkan kita menuju masa depan yang lebih baik.
Umat Tuhan pada zaman Yehezkiel mengalami kekalahan perang dan harus tinggal di negeri pembuangan. Mereka kehilangan identitas sebuah bangsa dan hidup sebagai orang buangan di negeri asing. Di tengah situasi yang putus asa itu, Yehezkiel mendapatkan penglihatan suatu lembah penuh tulang. Tulang-tulang tersebut melambangkan umat Tuhan yang sedang dalam pembuangan. Harapan mereka telah punah ketika mereka tersebar di negeri asing. Harapan yang pupus ibarat tulang yang kering, tidak ada kehidupan sama sekali. Melalui Yehezkiel, Tuhan kembali menyerukan janji pemulihan bagi umat yang dikasihiNya.
Tulang-tulang yang kering akan dibangkitkan, diberi daging, ditutupi kulit, serta nafas kehidupan, supaya hidup kembali. Ini sebuah angin harapan yang menghembusi jiwa jiwa yang putus asa. Janji yang perlu kita imani. Iman yang akan menggerakkan kita untuk tetap teguh dan berjuang menghadapi hidup.
Jangan menyerah, hadapilah bersama dengan Tuhan. Imani dan percayai, semua yang berat ini akan berlalu. Kita akan kuat di dalam Tuhan.
Doa pribadi:
“Tuhan tolonglah kami untuk tetap berpengharapan dalam menghadapi situasi hidup ini”
Pdt Daniel K. Gunawan