DORONGAN MENIKAH

  •  Gerald Raynhart Stephen
  •  

Renungan Harian GKI Coyudan

Senin, 7 Oktober 2024

Bacaan: 1 Korintus 7: 1-9


Dorongan Menikah


Cinta atau kasih biasanya menjadi satu dorongan ynag membuat seseorang akhirnya memutuskan untuk menikah. Selain itu seseorang bisa dengan yakin menikah kalau sudah merasa cukup kenal dengan pasangannya. Masih banyak alasan atau dorongan-dorongan yang dimiliki manusia untuk menikah. Tetapi ada satu dorongan yang disebutkan oleh rasul Paulus dan ini juga penting untuk diperhatikan.


Rasul Paulus memulai perikop ini dengan berkata bahwa adalah baik jika seorang pria tidak menikah (ay. 1). Apakah Paulus berlawanan dengan perintah Allah yang dari sejak semula justru menciptakan pernikahan? Tentu tidak. Paulus tidak sedang menentang perintah Allah. Paulus sedang menasehati jemaat di Korintus, karena ia mendengar bahwa jemaat di Korintus melakukan sebuah dosa percabulan.


Korintus adalah sebuah kota yang kecil tetapi sangat maju pada waktu itu. Korintus menjadi tempat transit bagi beberapa orang dari negara-negara lain, karena letaknya yang strategis. Sehingga orang-orang Korintus sendiri beragam budaya dan kepercayaannya. Karena itu salah satu budaya yang dimiliki adalah kuil pelacuran bakti. Kuil ini dibuat bagi orang-orang Korintus untuk menyembah dewa mereka dengan cara melakukan percabulan. Sayangnya banyak jemaat Korintus juga ikut di dalamnya. Selain itu percabulan menjadi hal yang biasa karena adanya kuil tersebut.


Dalam bahasa aslinya kata "menikah" dapat diartikan "tidak berhubungan atau tidak menyentuh wanita." Maksudnya sekali lagi Paulus menegor para pria untuk sebaiknya tidak melakukan percabulan tersebut. Lebih lagi Paulus juga menyebut dirinya sebagai teladan karena ia juga tidak menikah, dan hanya fokus melayani Tuhan (ay. 7-8). Panggilan selibat atau tidak menikah dikhususkan bagi mereka yang ingin benar-benar fokus melayani Tuhan dan bagi mereka yang kuat menahan hawa nafsu.


Rasul Paulus berkata bahwa karena bahaya percabulan dan karena pria-pria tidak dapat menahan nafsunya, maka lebih baik mereka menikah (ay. 2, 9). Hal ini dikatakan agar jemaat di Korintus sungguh-sungguh memandang percabulan sebagai dosa. Percabulan bukanlah hal yang wajar. Dan karena itu adalah lebih baik jika seorang menikah daripada melakukan percabulan tanpa ikatan pernikahan.


Selain itu Paulus juga memberikan nasehat-nasehat di dalam pernikahan. Suami memenuhi kewajibannya terhadap istri, istri juga demikian. Dan jika sedang ada masalah ternyata baik juga jika ada waktu untuk menyendiri dan berdoa kepada Tuhan, sesuai kesepakatan bersama. Setelah itu harus kembali bersama lagi bukan kemudian berpisah selamanya. Satu hal yang perlu digarisbawahi Paulus juga berkata "ini bukan perintah tetapi kelonggaran (ay. 6)." Maka dari itu bukan harus dilakukan melainkan dapat dilakukan sesekali agar setiap suami dan istri mendapat kesempatan untuk berdoa secara pribadi kepada Tuhan.


Lebih baik menikah dari pada sendiri dan melakukan dosa. Dan di dalam pernikahan kita harus tetap mengutamakan pasangan kita dan juga relasi kita bersama dengan Tuhan. Supaya Tuhan tetap menjadi kepala yang memimpin dan juga menguatkan relasi pasangan suami istri. Tidak ada yang dapat mengusahakan relasi suami istri dengan kekuatan sendiri, sebab kita adalah manusia berdosa yang sewaktu-waktu bisa melakukan dosa. Maka dari itu marilah kita menyandarkan segala hawa nafsu kita kepada Tuhan dan sungguh-sungguh membawa pernikahan kita kepada Tuhan.


Pokok Doa:

1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja-pemuda GKI Coyudan

2. Rangkaian Bulan Keluarga

3. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia


Gerald Raynhart Stephen

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.