DIPULIHKAN DAN MENJADI SAKSI-NYA

  •  Kardiana Jumaini
  •  

Renungan Warta, 21 September 2025


DIPULIHKAN DAN MENJADI SAKSI-NYA

Kisah Para Rasul 9: 1-20


Lagu himne Kristen “Ajaib Benar Anugerah” (Amazing Grace) yang ditulis oleh John Newton pada tahun 1772 adalah sebuah lagu yang menceritakan pengalaman pertobatan dan anugerah Tuhan yang luar biasa dalam kehidupan Newton. Seorang mantan pelaut dan pedagang budak yang dipulihkan Tuhan dan beralih menjadi pendeta melalui peristiwa dramatis dan pertobatan spiritual di tengah badai laut. Lirik lagu ini sebagai kesaksian atas rahmat Allah yang tak terhingga karena sesungguhnya ia merasa tidak layak menerima pengampunan setelah hidup dalam dosa dan terlibat dalam perdagangan budak. Perasaan seseorang yang tadinya hilang, buta, bercela menjadi sembuh dan lega berkat anugerah Allah dan dipakai Allah sebagai alat-Nya mewartakan berita keselamatan.

Demikian juga dengan Paulus, yang sebelumnya dikenal sebagai Saulus adalah seorang yang sangat pandai yang telah dididik dalam pendidikan Farisi yang paling keras. Dia adalah seorang muda yang sangat berkobar-kobar semangatnya untuk menganiaya dan membunuh para pengikut Yesus. Berbekal surat kuasa  dan wewenang yang ia dapat dari Imam Besar di Yerusalem, Saulus berniat ke sinagoge-sinagoge orang Yahudi di kota Damsyik dan memerintahkan orang-orang Yahudi di Damsyik untuk mendukungnya dalam usahanya menganiaya orang-orang percaya di Damsyik dan membawa mereka kembali ke Yerusalem untuk diadili dan dihukum. Saulus bermaksud untuk menghentikan pemberitaan Injil.

Hari itu dalam sebuah perjalanan ke Damsyik, Saulus berjumpa dengan seseorang yang akan mengubah seluruh jalan hidupnya. Cahaya dari langit yang sangat terang tiba-tiba memancar mengelilingi Saulus dan rombongannya di dekat kota Damsyik. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku ?” Jawab Saulus, “Siapa Engkau, Tuan ?” Kata-Nya, “Akulah Yesus, yang kau aniaya itu. Tetapi, bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kau perbuat.” (Kisah Para Rasul 9 : 3-6)

Seketika itu juga, perjumpaan Saulus dengan Tuhan Yesus membuatnya menyadari akan dosa dan kejahatan yang dilakukannya. Matanya saat itu menjadi buta, tetapi hati Saulus rupanya telah dicelikkan oleh Allah. Perjumpaan dengan Tuhan Yesus yang menjadi titik balik Saulus dari seorang penganiaya pengikut Yesus menjadi alat pilihan bagi Tuhan, untuk memberitakan nama Tuhan di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel (ay. 15). Saulus, setelah bertemu dengan Ananias, yang diutus Allah supaya membuat matanya dapat melihat kembali dan membuat Saulus penuh dengan Roh Kudus, tinggal beberapa hari bersama murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah (ay. 19b-20). Perubahan yang luar biasa. Pertobatan seorang penganiaya besar seperti Saulus makin membuktikan bahwa Injil itu benar dan berkuasa menyelamatkan.

Jemaat terkasih, Allah tidak hanya melihat kelam hidup dan sisi buruk seseorang saja. Tetapi Allah bekerja, mencari dan menjumpai orang berdosa seperti Saulus, disadarkan, dipulihkan dan dipakai sebagai alat-Nya untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah dan hal ini masih berlaku sampai hari ini. Tidak peduli bagaimana orang lain memandang kita, Yesus memandang kita berharga dan Ia mau menyelamatkan kita. Yesus datang untuk semua orang; ke mana pun Injil yang tak terbendung ini diberitakan, perubahan besar terjadi bagi setiap orang yang menerimanya.

Jemaat terkasih, kita telah ditebus dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Yesus rindu kita meresponinya dengan mensyukuri anugerah keselamatan dan pengampunan dosa yang Tuhan sudah kerjakan.  Mari bergerak, karena kita pun dapat meneruskan kabar baik/Injil itu kepada semua orang. Tuhan Yesus menolong dan menyertai kita semua. (Pnt. Kardiana Jumaini)

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.