DILEMA SOSIAL MEDIA
Ada masa ketika akan posting di sosial media, saya penuh dengan pertimbangan :
- Pengen posting foto makanan yang estetik, mikir "Nanti dikira makan terus"
- Pengen posting foto liburan, mikir
"Nanti di kira pamer liburan"
- Pengen posting hal yang membanggakan dari anak-anak saya, mikir
"Nanti dikira jumawa sebagai orangtua"
Lalu, biasanya batal posting, karena pertimbangan-pertimbangan tersebut.
Ada kalanya, semua pertimbangan itu melebur dalam sebuah rasionalisasi"
"Ya terserah orang mau mikir apa, itu urusan hati mereka dengan Tuhan"
"Hak ku kan mau posting apa, ini toh sosial media punyaku"
Dan dengan gampang akan posting segala hal yang ingin saya tampilkan di sosial media saya.
Ada kalanya melakukan kompromi :
- Tetap posting foto makanan estetik, tapi di kasi caption (keterangan) Kata-kata indah atau ayat Alkitab ????
Karena (harapannya) akan memberi kesan tidak segitunya pamer.
- Tetap posting foto liburan, tapi hanya bagian alam nya saja atau foto barang tertentu saja yang me representasi daerah wisata tersebut. Tentu, sembari di beri keterangan
#bersyukurselalu
#familytime
#healingitupenting
Kebutuhan untuk bersosialisasi melalui media, kebutuhan untuk diakui, kebutuhan untuk terlibat berkelindan dengan kebutuhan untuk mencari dan memberi makna bagi diri dan sesama.
Setiap hari setiap saat menjadi sebuah pergolakan batin konstan (constant battle).
Tidak hanya urusan posting di sosial media, tapi juga tentang pengambilan keputusan di berbagai area hidup kita.
Ya Tuhan, berikanlah anakMu hikmat dan hati yang terus mengarah kepadaMu. Hati kami tidak selalu benar ya Tuhan. Tolonglah jaga hati kami, untuk secara sadar melibatkan Engkau dalam setiap keputusan hidup. Agar ketika sesama melihat kami, mereka akan juga melihatMu ☺ Amin ☺
(Ibu Nova Natali)